Laba Bersih PT Vale Indonesia Melesat 313 Persen Pada Semester I 2026
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat kinerja keuangan yang sangat solid pada semester I 2026. Laba bersih emiten nikel tersebut melonjak 313,41 persen secara tahunan menjadi USD 104,38 juta, dibandingkan USD 25,25 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan laba ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan, penguatan margin, serta efisiensi beban yang berhasil dijaga perseroan di tengah dinamika biaya energi dan proses investasi yang masih berjalan.
Pendapatan Tumbuh 27,26 Persen
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan PT Vale Indonesia naik 27,26 persen year on year dari USD 426,74 juta menjadi USD 543,07 juta. Kenaikan ini turut mendorong lonjakan laba kotor yang melesat 404,94 persen menjadi USD 152,29 juta.
Pada saat yang sama, laba usaha juga mengalami peningkatan tajam dari USD 6,22 juta menjadi USD 134,14 juta. Capaian tersebut menunjukkan perbaikan operasional yang signifikan sepanjang paruh pertama tahun ini.
Penjualan Bijih Nikel Jadi Penopang
Pertumbuhan pendapatan PT Vale terutama ditopang oleh penjualan bijih nikel yang menyumbang USD 142 juta atau 26 persen dari total pendapatan. Kontribusi ini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kinerja perseroan tetap positif.
Di sisi lain, pendapatan dari segmen nikel matte justru turun 5 persen secara tahunan. Penurunan itu terjadi meski harga jual rata-rata atau ASP naik 21 persen menjadi USD 14.491 per ton, karena volume penjualan merosot 21,24 persen menjadi 27.659 ton.
Produksi Nikel Matte Sempat Turun
Dari sisi operasional, total produksi nikel dalam matte pada semester I 2026 tercatat 29.773 metrik ton, turun 16,33 persen dibanding 35.584 metrik ton pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan tersebut dipengaruhi oleh perawatan tanur listrik. Namun, kinerja mulai membaik pada kuartal II 2026 setelah proyek pembangunan kembali Tanur Listrik 3 rampung pada Juni 2026, seingga produksi meningkat menjadi 16.153 ton.
Dorong Hilirisasi Nikel
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, mengatakan perusahaan terus mempercepat pengerjaan proyek strategis di sektor hilir nikel. Salah satu langkah penting adalah kedatangan autoclave yang disebut menjadi kemajuan signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia.
Menurut Bernardus, langkah tersebut memperkuat komitmen PT Vale dalam mendukung agenda hilirisasi nasional. Fokus ekspansi ini menunjukkan bahwa perseroan tidak hanya mengejar pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi bisnis jangka panjang.
Belanja Modal Naik, Kas Menyusut
Sepanjang kuartal II 2026, PT Vale merealisasikan belanja modal sebesar USD 116 juta. Dana tersebut termasuk untuk pengerjaan proyek HPAL di Morowali yang menjadi bagian dari strategi hilirisasi perusahaan.
Akibat aktivitas investasi tersebut, posisi kas dan setara kas perseroan turun menjadi USD 110,66 juta per akhir Juni 2026. Meski demikian, kondisi keuangan PT Vale masih tergolong kuat dan terjaga.
Beban Energi Naik, Efisiensi Tetap Terjaga
PT Vale juga menghadapi tantangan kenaikan biaya energi akibat gejolak geopolitik global. Harga HSFO naik 25 persen, diesel 40 persen, dan batu bara 12 persen.
Namun, di tengah tekanan tersebut, perseroan berhasil menekan biaya tunai pokok penjualan nikel matte menjadi USD 10.005 per ton pada kuartal II 2026. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga efisiensi operasional secara efektif.
Neraca Keuangan Masih Kuat
Secara keseluruhan, struktur neraca PT Vale Indonesia tetap solid. Total aset tercatat sebesar USD 3,38 miliar, sementara total ekuitas naik menjadi USD 2,83 miliar.
Rasio utang terhadap modal atau DER berada di level rendah, yakni 0,19 kali. Selain itu, current ratio perusahaan tercatat 1,58 kali, menandakan likuiditas perseroan masih cukup baik untuk mendukung operasional dan investasi.

