The Fed Pertahankan Suku Bunga 3,5%-3,75%
Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), kembali mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75% dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu, 29 Juli 2026 waktu setempat. Namun, keputusan ini tidak bulat karena tiga anggota FOMC justru mendesak kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi yang masih tinggi.
Keputusan Fed Tidak Bulat
Dalam pemungutan suara 9-3, mayoritas anggota FOMC sepakat menahan suku bunga, tetapi tiga pejabat Fed regional menolak keputusan tersebut. Mereka adalah Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden Fed Dallas Lorie Logan, yang menilai inflasi belum cukup terkendali.
Perpecahan suara ini menjadi salah satu yang terbesar sejak 2016 dan menandakan adanya perbedaan pandangan yang cukup tajam di internal bank sentral AS.
Alasan Tiga Pejabat Ingin Naikkan Bunga
Ketiga pejabat tersebut menilai inflasi yang bertahan di atas target 2% selama lebih dari lima tahun membutuhkan respons kebijakan yang lebih ketat. Mereka khawatir jika suku bunga tetap ditahan terlalu lama, tekanan harga bisa semakin sulit dikendalikan.
Di sisi lain, data ekonomi AS masih menunjukkan aktivitas yang solid, meski ketidakpastian global dan dinamika tenaga kerja tetap menjadi perhatian utama.
Dampak ke Pasar
Keputusan The Fed ini berpotensi memengaruhi arah pasar global, terutama dolar AS, obligasi, dan aset berisiko seperti saham. Sikap hati-hati bank sentral menunjukkan bahwa peluang penyesuaian suku bunga berikutnya masih sangat bergantung pada data inflasi dan pasar tenaga kerja.
Mayoritas anggota FOMC juga masih memproyeksikan kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026, sehingga pasar akan terus mencermati sinyal lanjutan dari The Fed dalam pertemuan berikutnya.
Keputusan The Fed mempertahankan suku bunga di level 3,5%-3,75% menunjukkan bahwa bank sentral AS masih memilih bersikap hati-hati di tengah inflasi yang belum sepenuhnya jinak. Namun, adanya tiga suara yang mendorong kenaikan suku bunga menandakan tekanan internal masih kuat untuk memperketat kebijakan moneter lebih lanjut.

