Pasokan Minyak Dunia Terancam Melimpah Jelang Pemilu Sela AS
Pasar minyak global berpotensi kembali mengalami kelebihan pasokan sebelum akhir tahun akibat meningkatnya tekanan politik terhadap Washington untuk mengakhiri konflik dengan Iran menjelang pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat. Kondisi de‑eskalasi tersebut diperkirakan akan terjadi dalam beberapa pekan mendatang, menurut laporan Bloombergtechnoz pada Selasa, 28 Juli 2026.
Analis energi dari Macquarie Ltd memperkirakan sejumlah langkah de‑eskalasi yang didorong oleh kebutuhan politik domestik AS dapat membuka kembali arus distribusi energi dari kawasan Timur Tengah. "Beberapa minggu lagi, bukan beberapa bulan," kata Vikas Dwivedi, ahli strategi energi di Macquarie, merujuk pada kemungkinan pemulihan pasokan dalam waktu dekat.
Macquarie memperingatkan bahwa meredanya ketegangan militer akan menimbulkan akumulasi stok minyak mentah. Lembaga riset itu memproyeksikan surplus pasokan hingga 2 juta barel per hari pada kuartal keempat 2026, dan memperkirakan kelebihan pasokan tersebut dapat berlipat ganda pada kuartal pertama 2027 seiring membaiknya aliran pasokan global. Meskipun kemungkinan tercapainya kesepakatan damai permanen belum pasti, pemulihan jalur pasokan kemungkinan akan berlangsung setelah adanya kesepakatan awal.
Strategi de‑eskalasi ini dinilai memiliki batas waktu politis. "Mereka memegang opsi jual (put option), tetapi nilainya menurun seiring waktu dan tanggal kedaluwarsanya adalah Pemilu sela," ujar Dwivedi, menggambarkan dorongan politik bagi pemerintah AS untuk mengurangi ketegangan sebelum pemilihan November.
Dorongan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menuntaskan konflik juga didorong oleh tekanan ekonomi di dalam negeri. Lonjakan harga bensin yang sempat menembus US$4 per galon serta tekanan inflasi telah menjadi isu sensitif bagi pemilih dan berpotensi memengaruhi suara terhadap Partai Republik di Kongres.
Sementara itu, posisi Iran tetap rentan terhadap tindakan militer yang lebih agresif apabila kesepakatan tidak tercapai sebelum pemilu. Ekonomi Iran masih tertekan akibat sanksi dan keterbatasan akses ke dana internasional yang dibekukan, sehingga pemerintah Tehran memiliki insentif sekaligus keterbatasan dalam menghadapi tekanan eksternal.
Perkembangan konflik belakangan ini sempat menutup sebagian aktivitas di Selat Hormuz dan memicu serangan pemberontak Houthi terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Meski Amerika Serikat sempat menunda aksi militer untuk memberi ruang bagi upaya diplomasi, belum ada bukti adanya negosiasi substantif yang mengarah pada gencatan penuh.
Skenario de‑eskalasi yang sedang dibahas diperkirakan akan melibatkan kompromi yang ketat, termasuk kemungkinan penerapan tarif atau aturan baru bagi jalur pelayaran vital seperti Selat Hormuz. "Sudah jelas, kita tidak punya cara untuk menghentikan Iran memblokir selat tersebut," kata Dwivedi, menekankan keterbatasan opsi militer dan implikasi bagi kelancaran pasokan energi global.
Dengan potensi akumulasi stok dan tekanan harga yang mungkin kembali mereda, pelaku pasar minyak diperkirakan akan memantau perkembangan diplomasi dan keputusan politik di Washington serta respons Tehran secara ketat dalam beberapa pekan mendatang.

