Saham Asia Melemah, KOSPI Anjlok Hingga 9%

Saham Asia Melemah, KOSPI Anjlok Hingga 9%
(Foto Index KOSPI dari Google Finansial)
Pasar saham Asia terpukul tajam setelah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat, memicu aksi jual besar di regional. 

Indeks utama Korea Selatan, KOSPI, anjlok sekitar 9% dan menjadi yang terburuk di kawasan, turut menarik penurunan indeks lain seperti Nikkei Jepang dan berbagai bursa Asia-Pasifik.

Penurunan ini terutama dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik Timur Tengah yang dapat mengganggu pasokan energi global serta menekan sentimen risiko di seluruh pasar.

Ketegangan Geopolitik Memanas dan Memburuk Sentimen Pasar

Aksi jual di pasar saham Asia dimulai setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran terkait jalur vital Selat Hormuz, yang dikenal sebagai salah satu pintu utama distribusi energi global. Trump menyatakan AS akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.

Pernyataan tersebut memicu kepanikan investor:

Kekhawatiran terhadap serangan terhadap fasilitas energi di Teluk.

Risiko gangguan suplai minyak dan gas.

Dampak lanjutan terhadap inflasi global dan pertumbuhan ekonomi regional.

Ketidakpastian geopolitik ini langsung menekan selera risiko, sehingga investor beralih dari aset berisiko seperti saham menuju instrumen yang dianggap lebih aman.

Kospi Korea Selatan Anjlok Lebih dari 8%

Korea Selatan menjadi pasar dengan kinerja terburuk di Asia dalam perdagangan tersebut. Indeks acuan KOSPI turun sekitar 5%–9%, tergantung sumber, dan sempat menyentuh level penurunan yang memaksa otoritas setempat menerapkan batas perdagangan atau bahkan menghentikan perdagangan sementara untuk mencegah aksi jual lebih lanjut.

Beberapa poin kunci:

KOSPI turun puluhan hingga ratusan poin dalam sehari, mencapai level terendah periode tertentu.

Indeks Kosdaq yang lebih berfokus pada saham teknologi juga ikut terkoreksi signifikan.

Mata uang won Korea Selatan melemah hingga menyentuh level terendah dalam 17 tahun, memperparah tekanan pasar.

Dominasi saham teknologi dan semikonduktor seperti Samsung Electronics dan SK Hynix dalam indeks KOSPI membuat koreksi di sektor ini langsung berdampak besar pada pergerakan indeks utama.

Nikkei dan Bursa Asia Lainnya Juga Tertekan

Tidak hanya Korea Selatan, Jepang juga mengalami penurunan tajam. Indeks Nikkei 225 dan TOPIX masing-masing turun antara 2,8% hingga lebih dari 5% dalam beberapa laporan, tergantung tanggal dan sumber.

Di kawasan lainnya:

Bursa Australia, Hong Kong, dan Tiongkok juga menunjukkan penurunan, walau tidak sebesar Korea dan Jepang.

Untuk beberapa hari, pasar Asia diperdagahkan dalam kondisi negative atau “mixed negative”, dengan tekanan utama datang dari sentimen geopolitik Timur Tengah.

Secara keseluruhan, penurunan ini mencerminkan pola “risk-off” global: investor mengurangi eksposur terhadap saham, terutama di pasar yang sangat terbuka terhadap perdagangan global seperti Korea Selatan dan Jepang.

 

Next Post Previous Post