Saham GOTO Tetap Bertahan di LQ45
Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa penentuan konstituen indeks tidak hanya melihat pergerakan sesaat, melainkan menggunakan metodologi kuantitatif yang mengukur rata-rata likuiditas dalam periode tertentu. Dengan skema itu, transaksi tinggi pada periode awal evaluasi masih membantu menopang posisi GOTO di daftar indeks utama.
Penjelasan BEI
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, menjelaskan bahwa penilaian likuiditas tidak dihitung hanya berdasarkan kondisi satu atau dua bulan terakhir. Menurut dia, evaluasi didasarkan pada rata-rata enam bulan atau 12 bulan sebelum proses peninjauan.
“Likuiditasnya, kan, nggak dihitung cuma sebulan-dua bulan, rata-rata enam bulan atau 12 bulan terakhir sebelum evaluasi. Jadi kalau dia masih ada berarti mungkin di bulan-bulan sebelumnya memang likuiditasnya masih kencang,” kata Irvan.
Ia menambahkan, pola itu juga terlihat pada rata-rata nilai transaksi harian BEI yang masih berada di kisaran Rp22 triliun secara year to date, meski sempat didorong lonjakan perdagangan pada Januari dan kemudian melambat sejak pertengahan Maret.
“Menurut saya, sih, GOTO sama. Jadi dia masih cukup likuid di bulan-bulan sebelumnya sehingga masih cukup memenuhi syarat,” ujar Irvan.
Tekanan Likuiditas GOTO
| (Foto Saham GOTO dari Aplikasi Stockbit) |
Langkah Korporasi GOTO
Di tengah tekanan pasar, GOTO juga mengambil langkah korporasi dengan membatalkan alokasi 32.186.417.803 saham Seri A hasil buyback periode 2024–2025 yang semula disiapkan untuk program kepemilikan saham karyawan dan direksi atau ESOP/MSOP. Perseroan kemudian mengalihkan saham tresuri tersebut untuk mekanisme pengurangan modal.
Langkah itu diambil setelah mempertimbangkan dinamika pasar global dan domestik dengan tujuan mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham. Rencana pengurangan modal tersebut nantinya akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Sementara itu, sebanyak 7.593.660.600 saham Seri A hasil buyback periode 2025–2026 masih dalam tahap kajian internal perseroan.

