Unilever Catat Pertumbuhan Penjualan Kuartal II-2026

Unilever Catat Pertumbuhan Penjualan Kuartal II-2026

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatat kinerja operasional yang membaik pada kuartal II-2026. Penjualan bersih naik 11,6 persen menjadi Rp 8,5 triliun, ditopang pertumbuhan volume penjualan sebesar 12,7 persen, meski laba bersih hanya tumbuh 4,8 persen menjadi Rp 829 miliar karena tekanan margin laba kotor.

Kenaikan penjualan terutama didorong oleh basis perbandingan yang rendah pada tahun lalu serta pergeseran momentum Idul Fitri. Distributor juga mulai menambah stok pada April 2026, lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya yang dimulai pada Maret.

Tekanan Biaya Masih Berat

Tekanan utama datang dari kenaikan biaya bahan baku, khususnya harga minyak yang melonjak 45 persen secara tahunan. Akibatnya, margin laba kotor menyusut menjadi 45 persen, sementara rasio beban operasional terhadap penjualan naik ke 33,9 persen dan margin laba usaha turun ke 11,1 persen.

Meski belanja iklan menurun, penghematan tersebut belum cukup untuk mengimbangi kenaikan biaya distribusi akibat mahalnya bahan bakar. Dalam laporan terkait semester I-2026, margin laba kotor UNVR juga tercatat lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menunjukkan tekanan biaya masih berlanjut.

Pandangan Analis

Analis Indo Premier Sekuritas, Andrianto Saputra, menilai kinerja laba inti semester I-2026 dan penjualan bersih masih sesuai dengan estimasi pasar. Namun, pertumbuhan laba kuartal II tertahan oleh pelemahan margin laba kotor meski pertumbuhan penjualan tergolong solid.

Ia menambahkan, kenaikan volume juga terbantu oleh pergeseran pola distribusi menjelang Lebaran. Menurutnya, manajemen memperkirakan penyesuaian harga selektif 3–5 persen yang mulai diterapkan sejak Juni 2026 dapat membantu pemulihan margin pada semester II-2026.

Prospek Dan Risiko

Unilever Catat Pertumbuhan Penjualan Kuartal II-2026
(Foto Saham UNVR dari Google Finansial)
Indo Premier Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi hold untuk saham UNVR dengan target harga Rp 2.100 per saham, berdasarkan valuasi price to earnings 20 kali untuk 2026.

Risiko utama tetap berasal dari harga minyak yang tinggi, karena berpotensi menekan margin lebih lama, serta pelemahan daya beli masyarakat yang bisa membatasi pertumbuhan penjualan.
Next Post Previous Post