Saham RMKE Berencana untuk Stock Split dengan Rasio 1:5
Apa itu stock split dan kenapa RMKE lakukan?
| (Foto Saham RMKE dari Google Finansial) |
RMKE memilih melakukan stock split untuk:
Membuat harga saham lebih “terjangkau” bagi investor ritel.
Meningkatkan likuiditas perdagangan di pasar.
Memperluas basis investor sehingga perdagangan bisa lebih aktif.
Secara fundamental, stock split tidak mengubah nilai perusahaan, laba, atau aset. Hanya struktur nominal saham dan jumlah lembar yang berubah.
Jadwal stock split RMKE
Berdasarkan informasi dari Kontan dan sumber lain, jadwal rencana stock split RMKE adalah sebagai berikut:
26 Juni 2026: Persetujuan RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa).
7 Juli 2026: Persetujuan prinsip pencatatan saham tambahan dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
13 Juli 2026: Pengumuman resmi mengenai jadwal dan tata cara pemecahan nilai nominal saham.
16 Juli 2026: Hari terakhir perdagangan saham dengan nilai nominal lama (Rp100) di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi.
17 Juli 2026: Hari pertama perdagangan saham dengan nilai nominal baru (Rp20) di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi.
17 – 20 Juli 2026: Peniadaan (suspensi) perdagangan di Pasar Tunai sementara waktu untuk proses transisi.
20 Juli 2026: Recording Date (Penentuan daftar pemegang saham dan rekening efek yang berhak menerima saham hasil stock split).
21 Juli 2026: Tanggal distribusi saham bernominal baru ke sub-rekening efek investor sekaligus dibukanya kembali perdagangan di Pasar Tunai menggunakan nominal baru.
Catatan Penting untuk Investor:
Penyesuaian Otomatis: Jika Anda memegang saham RMKE hingga melintasi tanggal 16 Juli 2026, jumlah lembar saham Anda di portofolio sekuritas akan bertambah secara otomatis sebanyak 5 kali lipat pada tanggal 21 Juli 2026.
Harga Saham: Harga pasar per lembar saham juga akan disesuaikan menjadi seperlima (1/5) dari harga penutupan tanggal 16 Juli.
Implikasi bagi pemegang saham
Untuk pemegang saham yang sudah memiliki RMKE sebelum recording date:
Jumlah lembar saham yang dimiliki akan meningkat 5 kali lipat.
Harga per saham secara teoritis turun sekitar 5 kali lipat.
Nilai total folder investasi (jumlah saham × harga per saham) tetap sama, kecuali ada perubahan harga pasar akibat faktor likuiditas, sentiment, atau fundamental.

