Bitcoin (BTC) Terbaru Kembali Turun di Bawah US$65.000, Pasar Tunggu Data CPI
Harga Bitcoin (BTC) kembali menghadapi tekanan jual setelah sebelumnya berusaha mempertahankan tren penguatan. Pelemahan ini terjadi ketika pelaku pasar memilih bersikap wait and see menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat atau Consumer Price Index (CPI).
Data CPI menjadi salah satu indikator ekonomi yang paling diperhatikan karena dapat memengaruhi arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed. Jika inflasi masih tinggi, peluang penundaan pemangkasan suku bunga dapat meningkat dan berpotensi menekan aset berisiko seperti Bitcoin.
Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan bisa memperkuat harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter. Kondisi tersebut berpotensi mendorong minat investor terhadap aset kripto dan pasar saham.
Pasar Menanti Rilis Data CPI AS
Berdasarkan laporan analis Ajaib Kripto, data CPI Amerika Serikat dijadwalkan terbit pada Rabu, 12 Juni 2024 pukul 19.30 WIB. Setelah itu, pasar juga menunggu hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada Kamis, 13 Juni 2024 dini hari pukul 01.00 WIB.
Inflasi AS pada Mei 2024 diproyeksikan meningkat sekitar 0,1 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kenaikan 0,3 persen pada April 2024. Sementara itu, inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) diperkirakan berada di level 3,4 persen, sama seperti bulan sebelumnya.
Pergerakan Bitcoin biasanya cukup sensitif terhadap data ekonomi Amerika Serikat. Oleh karena itu, volatilitas BTC berpotensi meningkat setelah data CPI dan keputusan The Fed diumumkan.
Dua Skenario Pergerakan BTC
| (Foto Harga Bitcoin dari TradingView) |
Data Tenaga Kerja AS Ikut Menekan Bitcoin
Selain menunggu data CPI, pasar juga masih merespons laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa nonfarm payrolls (NFP) meningkat sebanyak 272.000 pada Mei 2024. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi pasar sebesar 180.000. Pendapatan rata-rata per jam juga naik 0,4 persen secara bulanan dan 4,1 persen secara tahunan.
Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat. Bagi investor, situasi ini dapat menjadi alasan bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Dampaknya, indeks dolar AS atau DXY mengalami penguatan, sedangkan Bitcoin sempat tergelincir hingga sekitar US$68.507. Penguatan dolar biasanya memberikan tekanan tambahan bagi aset berisiko yang diperdagangkan dalam denominasi dolar AS.
Arus Dana ETF Bitcoin Masih Positif
Di tengah tekanan harga, sentimen positif masih terlihat dari perdagangan ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Produk investasi tersebut mencatat arus dana masuk lebih dari US$1,8 miliar dalam sepekan dan melanjutkan tren inflow selama 18 hari berturut-turut.
Arus dana masuk ke ETF Bitcoin menunjukkan bahwa minat investor institusional terhadap aset kripto masih cukup kuat. Namun, aliran dana positif tersebut belum sepenuhnya mampu menghilangkan dampak dari data ekonomi makro dan ekspektasi suku bunga.
Investor masih perlu memperhatikan apakah dana masuk ke ETF dapat berlanjut setelah rilis data CPI dan keputusan FOMC. Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, sebagian investor bisa memilih mengurangi eksposur terhadap aset kripto untuk mengantisipasi volatilitas.
Investor Perlu Mewaspadai Volatilitas
Pergerakan Bitcoin menjelang rilis data CPI cenderung sulit diprediksi. Harga dapat mengalami kenaikan atau penurunan tajam dalam waktu singkat karena pasar merespons angka inflasi, pernyataan The Fed, serta perubahan indeks dolar AS.
Investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu indikator ketika mengambil keputusan. Manajemen risiko, penentuan batas kerugian, dan pemahaman terhadap kondisi pasar tetap penting, terutama bagi investor yang melakukan perdagangan jangka pendek.

