Capaian Laba Bank Mandiri, BCA dan BNI di Semester I 2026

Capaian Laba Bank Mandiri, BCA dan BNI di Semester I 2026
Tiga bank besar yang masuk dalam kategori Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV telah merilis laporan kinerja keuangan untuk semester I 2026. Ketiga bank tersebut adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk (BCA), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI).

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI tercatat belum mempublikasikan laporan kinerja semester I 2026. Dari tiga bank yang telah melaporkan kinerjanya, Bank Mandiri menjadi peraih laba bersih terbesar, sedangkan BNI mencatat pertumbuhan kredit paling tinggi.

Bank Mandiri Pimpin Perolehan Laba

Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp30,4 triliun hingga semester I 2026. Perolehan tersebut meningkat 24,2 persen secara tahunan atau year on year (yoy), dibandingkan laba pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp24,5 triliun.

Pertumbuhan laba Bank Mandiri ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar 8 persen. Selain itu, dana pihak ketiga (DPK) perseroan juga tumbuh 17,1 persen secara tahunan.

Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyebut pertumbuhan bisnis menjadi salah satu faktor utama yang menopang kenaikan pendapatan dan NII perseroan.

“Yang pertama tentunya adalah dari pertumbuhan bisnis Bank Mandiri itu sendiri. Dengan pertumbuhan ini tentunya menghasilkan revenue ataupun NII yang cukup baik,” ujar Novita dalam konferensi pers virtual, Kamis (23/7/2026).

Dari sisi intermediasi, total kredit Bank Mandiri mencapai sekitar Rp1.592 triliun atau tumbuh 19,9 persen yoy. Namun, yield kredit mengalami penurunan 74 basis poin menjadi 7,01 persen pada Juni 2026, dari sebelumnya 7,75 persen.

Penurunan yield tersebut turut menekan net interest margin (NIM) Bank Mandiri menjadi 4,37 persen, dibandingkan 4,63 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di luar pendapatan bunga, kinerja Bank Mandiri juga diperkuat oleh pendapatan berbasis komisi. Fee berulang dari platform Livin’ by Mandiri meningkat 46 persen yoy, sedangkan fee dari Kopra by Mandiri tumbuh 22,8 persen. Pendapatan transaksi treasury juga meningkat 23 persen secara tahunan.

Kualitas aset Bank Mandiri tetap terjaga dengan rasio non-performing loan (NPL) sebesar 0,98 persen, coverage ratio 242 persen, dan cost of credit (CoC) pada level 0,52 persen.

BCA Jaga Efisiensi dan Pendapatan Nonbunga

BCA mencatatkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp29,5 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut tumbuh tipis sekitar 1,72 persen yoy dari laba semester I 2025 yang mencapai Rp29 triliun.

Kinerja tersebut dicapai di tengah penurunan NII sebesar 0,6 persen yoy menjadi Rp42,5 triliun. Tekanan pada pendapatan bunga berhasil dikompensasi oleh pendapatan nonbunga yang tumbuh 11 persen menjadi Rp13,2 triliun.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan perseroan terus menjaga disiplin biaya, pertumbuhan kredit, dan penguatan dana murah atau current account savings account (CASA).

“Di BCA sendiri kita terus disiplin mengenai biaya, juga kredit. Kita juga disiplin, pertumbuhan CASA tentunya juga akan banyak membantu pertumbuhan laba bersih kita,” kata Hendra dalam konferensi pers virtual, Selasa (28/7/2026).

Total kredit BCA meningkat 8 persen yoy menjadi Rp1.036 triliun. Kredit produktif memberikan kontribusi penting dengan nilai Rp802 triliun, naik 11 persen secara tahunan.

Berdasarkan segmennya, kredit korporasi tumbuh 13,6 persen menjadi Rp513,4 triliun. Sementara itu, kredit komersial dan usaha kecil menengah (UKM) meningkat 6,6 persen menjadi Rp288,5 triliun.

BCA juga mencatatkan pertumbuhan pembiayaan hijau sebesar 19 persen yoy menjadi Rp123 triliun. Dari sisi pendanaan, total DPK mencapai Rp1.284 triliun atau naik 7,9 persen, dengan CASA tumbuh 10,2 persen menjadi Rp1.082 triliun.

Komposisi CASA tersebut terdiri atas tabungan sebesar Rp638 triliun dan giro Rp444 triliun. Dengan demikian, CASA berkontribusi sekitar 84,3 persen terhadap total DPK BCA.

Kualitas kredit BCA tercermin dari rasio loan at risk (LAR) sebesar 4,9 persen dan NPL sebesar 1,9 persen pada akhir Juni 2026.

BNI Catat Pertumbuhan Kredit Tercepat

BNI membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp10,8 triliun pada semester I 2026. Laba tersebut tumbuh sekitar 6,33 persen yoy dari Rp10,16 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain laba bersih, BNI mencatatkan laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) sebesar Rp18,5 triliun. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator penguatan kinerja operasional perseroan.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan perseroan mengarahkan sumber daya ke sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat.

“Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen,” ujar Putrama dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8/2026).

Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga BNI meningkat 14,92 persen yoy menjadi Rp38,63 triliun. Meskipun beban bunga naik 15,94 persen menjadi Rp16,34 triliun, NII tetap tumbuh 14,19 persen menjadi Rp22,28 triliun.

BNI juga memperoleh pendapatan komisi sebesar Rp5,50 triliun. Pendapatan lainnya turut meningkat 8,70 persen menjadi Rp3,08 triliun.

Pada fungsi intermediasi, BNI menjadi bank dengan pertumbuhan kredit paling cepat di antara tiga bank KBMI IV yang telah melaporkan kinerja. Kredit BNI tumbuh 24,4 persen yoy menjadi sekitar Rp968,5 triliun hingga semester I 2026.

Pertumbuhan kredit BNI ditopang oleh penyaluran pembiayaan yang lebih terdiversifikasi, mulai dari segmen korporasi, menengah, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga konsumer.

Dari sisi pendanaan, CASA BNI tumbuh 11,2 persen yoy dengan rasio CASA sebesar 65,4 persen. Pertumbuhan dana murah tersebut membantu menurunkan cost of fund DPK menjadi 2,56 persen dari sebelumnya 2,78 persen.

Kualitas aset BNI juga menunjukkan perbaikan. Rasio LAR turun dari 11 persen menjadi 8,1 persen, sedangkan NPL tetap terjaga pada level 1,9 persen.

Perbandingan Kinerja Tiga Bank

Bank

Laba bersih semester I 2026

Pertumbuhan laba

Pertumbuhan kredit

Bank Mandiri

Rp30,4 triliun

24,2 persen yoy

19,9 persen yoy

BCA

Rp29,5 triliun

1,72 persen yoy

8 persen yoy

BNI

Rp10,8 triliun

6,33 persen yoy

24,4 persen yoy


Data tersebut menunjukkan Bank Mandiri masih menjadi bank dengan perolehan laba bersih terbesar. BCA berada di posisi kedua dengan dukungan pendapatan nonbunga dan CASA yang kuat, sedangkan BNI menonjol dari sisi ekspansi kredit serta pertumbuhan NII.

Secara umum, kinerja tiga bank KBMI IV pada semester I 2026 memperlihatkan bahwa ekspansi kredit tetap menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan. Namun, tekanan terhadap margin bunga, biaya dana, dan kualitas likuiditas masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan hingga akhir tahun.
Next Post Previous Post