Harga Bitcoin Sentuh US$70.000, Intervensi Treasury AS dan Likuidasi US$1,9 Miliar Jadi Katalis

Harga Bitcoin Sentuh US$70.000, Intervensi Treasury AS dan Likuidasi US$1,9 Miliar Jadi Katalis

Bitcoin (BTC) kembali mencatatkan reli mengejutkan pada Rabu (19/8/2026) waktu AS, dengan harga sempat menyentuh level psikologis US$70.000 untuk pertama kalinya sejak awal Juni 2026. Kenaikan tajam ini dipicu oleh kombinasi faktor makroekonomi, intervensi pasar obligasi AS, dan tekanan likuidasi posisi short di pasar kripto.

Pemicu Utama: Intervensi Treasury AS di Pasar Obligasi

Harga Bitcoin Sentuh US$70.000, Intervensi Treasury AS dan Likuidasi US$1,9 Miliar Jadi Katalis
(Foto Harga Bitcoin dari TradingView)
Katalis utama lonjakan harga Bitcoin kali ini berasal dari pengumuman Departemen Keuangan AS (U.S. Treasury) yang berencana melipatgandakan program pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintah jangka panjang.

Berikut detail kebijakan tersebut:

Skala operasi: Dinaikkan dari US$2 miliar menjadi minimal US$4 miliar per sesi.

Jenis obligasi: Fokus pada tenor 10–30 tahun.

Waktu mulai: Efektif 9 September 2026 hingga 4 November 2026.

Tujuan: Meningkatkan likuiditas di segmen obligasi jangka panjang yang tertekan akibat kekhawatiran fiskal AS.

Pasar membaca langkah ini sebagai bentuk "quantitative easing terselubung" yang berpotensi melemahkan dolar AS dan mendorong investor beralih ke aset langka seperti Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap pelemahan nilai uang (debasement hedge).

Dampak Langsung: Yield Obligasi Turun, Risiko Naik

Pengumuman Treasury langsung menekan imbal hasil (yield) obligasi AS, yang selama beberapa pekan terakhir terus merayap naik. Penurunan yield ini memicu rally di aset berisiko, termasuk saham teknologi dan kripto.

Matt Mena, analis senior di 21Shares, menjelaskan bahwa pasar menginterpretasikan langkah Treasury sebagai sinyal likuiditas positif yang memperkuat kasus bull jangka panjang untuk Bitcoin.

Short Squeeze Masif: US$1,3–1,9 Miliar Posisi Short Terlikuidasi

Selain faktor makro, dinamika teknis pasar juga memperparah volatilitas. Kenaikan harga yang cepat memicu likuidasi massal posisi short (bertaruh harga turun) di pasar kripto.

Data dari berbagai sumber menunjukkan:

Sekitar US$1,3–1,9 miliar posisi short terlikuidasi dalam hitungan jam.

Likuidasi ini memaksa trader short membeli kembali Bitcoin untuk menutup posisi, yang justru mendorong harga semakin tinggi (short squeeze).

Faktor Pendukung Lainnya

Selain intervensi Treasury dan short squeeze, beberapa faktor tambahan turut mendukung sentimen bullish:

Ekspektasi regulasi kripto AS: Presiden Donald Trump dikabarkan membahas kemungkinan pembelian Bitcoin oleh pemerintah dalam jumlah "signifikan".

Proposal SEC: Komisi Sekuritas AS (SEC) mengajukan aturan baru untuk penawaran token kripto dengan pengecualian hingga US$75 juta.

Akumulasi whale: Dompet Bitcoin berukuran besar (mega-whale) mencapai level tertinggi 6 bulan, menandakan akumulasi oleh investor institusional.

Reaksi Pasar dan Proyeksi

Per Rabu (19/8), Bitcoin tercatat naik sekitar 6–7% dalam 24 jam, dari sekitar US$64.000 ke level tertinggi intraday US$69.749 sebelum menyentuh US$70.000 di beberapa bursa seperti Coinbase.

Analis memperkirakan:

Level US$70.000 menjadi target breakout pertama sebelum menguji kembali level tertinggi sebelumnya.

Jika momentum likuiditas berlanjut, Bitcoin berpotensi menguji level US$75.000–80.000 dalam beberapa pekan ke depan.

Apa Artinya bagi Investor Kripto?

Bagi investor kripto, terutama di Indonesia, reli ini menegaskan bahwa Bitcoin masih sangat sensitif terhadap kebijakan moneter dan likuiditas global. Beberapa pelajaran penting:

Pantau kebijakan Treasury dan The Fed: Intervensi di pasar obligasi bisa jadi sinyal awal pergerakan besar di kripto.

Waspada volatilitas: Short squeeze bisa memicu rally cepat, tapi juga koreksi tajam jika likuiditas berubah.

Diversifikasi: Jangan terlalu terpaku pada satu aset; emas dan aset lindung nilai lainnya juga ikut naik dalam sesi ini.

Reli Bitcoin ke level US$70.000 bukan sekadar spekulasi, melainkan hasil dari konvergensi faktor makro, teknis, dan regulasi. Bagi trader dan investor, ini jadi momentum untuk mengevaluasi strategi, terutama dalam menghadapi potensi volatilitas lanjutan seiring implementasi kebijakan Treasury pada September 2026.

 

Next Post Previous Post