IHSG Anjlok 0,87 Persen Sesi I akibat Tekanan Saham Big Caps

IHSG Anjlok 0,87 Persen Sesi I akibat Tekanan Saham Big Caps
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir ke zona merah pada penutupan perdagangan sesi I, Selasa (11/8/2026). IHSG melemah 0,87 persen atau turun ke level 6.309 setelah tertekan oleh aksi jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Mengutip laporan Bloomberg Technoz, pergerakan IHSG berada dalam tekanan sepanjang sesi perdagangan. Indeks sempat bergerak di rentang 6.291 hingga 6.388, meskipun sebelumnya dibuka menguat pada awal perdagangan.

Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah

Tekanan terhadap IHSG salah satunya dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak global. Ketidakpastian konflik di Timur Tengah serta belum adanya kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi.

Panin Sekuritas menyampaikan bahwa Iran dan Oman belum mencapai kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Iran disebut masih mensyaratkan adanya kesepakatan terlebih dahulu dengan Amerika Serikat.

“Sementara itu, Iran dan Oman juga belum mencapai kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz karena Iran mensyaratkan tercapainya kesepakatan dengan AS terlebih dahulu,” papar Panin Sekuritas dalam risetnya.

Ketidakpastian tersebut membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk saham di pasar domestik.

Penjualan Ritel Indonesia Masih Menurun

Sentimen negatif terhadap pasar saham juga datang dari data Penjualan Ritel Indonesia. Penjualan ritel pada Juni 2026 tercatat mengalami kontraksi 3 persen secara tahunan atau year-on-year.

Meski angka tersebut membaik dibandingkan penurunan 3,9 persen pada Mei 2026, kinerja penjualan ritel tetap mencatatkan penurunan selama tiga bulan berturut-turut. Kondisi ini mencerminkan masih lemahnya daya beli serta aktivitas konsumsi masyarakat.

Kinerja penjualan ritel menjadi perhatian investor karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu faktor penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

466 Saham Melemah

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, nilai transaksi saham hingga penutupan sesi I mencapai Rp7,84 triliun. Volume perdagangan tercatat sebanyak 20,91 miliar saham dalam 1,22 juta kali transaksi.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 466 saham mengalami penurunan. Sementara itu, 160 saham menguat dan 162 saham lainnya bergerak stagnan.

Tiga sektor yang memimpin pelemahan IHSG adalah:

Sektor perindustrian turun 2,08 persen.

Sektor konsumen non-primer melemah 1,51 persen.

Sektor properti terkoreksi 1,12 persen.

Saham Big Caps Jadi Penekan IHSG

Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama pergerakan IHSG. Saham BBCA tercatat memberikan tekanan terbesar terhadap indeks, disusul oleh beberapa saham unggulan lainnya.

Berikut daftar saham big caps yang menjadi penekan IHSG pada sesi I:

Kode saham

Kontribusi terhadap pelemahan IHSG

BBCA

-11,09 poin

ASII

-3,27 poin

VKTR

-2,78 poin

DSSA

-2,58 poin

BMRI

-2,46 poin

BBNI

-2,32 poin

BRPT

-2,04 poin

BREN

-1,94 poin

TLKM

-1,85 poin

BUMI

-1,84 poin


Merosotnya saham-saham berkapitalisasi besar tersebut membuat tekanan terhadap IHSG semakin kuat pada perdagangan sesi pertama.

Investor Menanti Tinjauan MSCI

Panin Sekuritas menilai sikap wait and see investor menjelang tinjauan terbaru MSCI pada Agustus 2026 turut memperberat pelemahan IHSG.

Tinjauan MSCI tersebut dijadwalkan berlangsung pada Rabu (12/8/2026) waktu setempat. Investor masih menunggu informasi mengenai potensi perubahan indeks, termasuk dampaknya terhadap aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.

“Sentimen wait and see terhadap tinjauan terbaru MSCI Agustus 2026 yang dijadwalkan pada Rabu besok (12/8/2026) waktu setempat, melengkapi pelemahan IHSG pada siang hari ini,” jelas Panin Sekuritas.

Rupiah Melemah ke Level Rp17.834 per Dolar AS

Pelemahan IHSG juga berlangsung bersamaan dengan depresiasi nilai tukar rupiah. Berdasarkan perdagangan di pasar spot, rupiah terkoreksi 0,41 persen ke level Rp17.834 per dolar AS.

Apabila tekanan berlanjut, rupiah diproyeksikan menguji area support pada rentang Rp17.850 hingga Rp17.900 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar dapat menambah tekanan bagi saham-saham yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor maupun kewajiban dalam valuta asing.

Pergerakan IHSG pada sesi II akan dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak global, sentimen konflik Timur Tengah, arah rupiah, serta antisipasi investor terhadap hasil tinjauan MSCI Agustus 2026.

Next Post Previous Post