IHSG Ditutup Melemah 0,86 Persen Menjadi 6.394,12

IHSG Ditutup Melemah 0,86 Persen Menjadi 6.394,12

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia menutup perdagangan Rabu (19/8/2026) di level 6.394,12, turun 55,70 poin atau 0,86% dari penutupan sesi sebelumnya. Penurunan ini terjadi setelah indeks sempat menyentuh level tertinggi di awal sesi sebelum akhirnya tertekan oleh sentimen pasca pengumuman kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Ringkasan Pergerakan Pasar

Level penutupan IHSG: 6.394,12 (−0,86%)

Level tertinggi sesi: 6.490,91 (tercatat pagi hari)

Level terendah sesi: 6.380,46 (saat pembukaan)

Volume perdagangan: 36 miliar lembar saham

Nilai transaksi: Rp14,27 triliun

Frekuensi transaksi: 2.202.009 kali

Indeks LQ45: turun 0,56% ke 627,468

Komposisi saham: 238 saham menguat, 363 saham melemah, 188 saham stagnan

BI Pertahankan BI-Rate di 5,75%

Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 18–19 Agustus 2026. Keputusan ini sejalan dengan konsensus pasar yang sejak awal memproyeksikan BI akan menahan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi di tengah ketidakpastian global.

Selain BI-Rate, BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility di 4,75% dan Lending Facility di 6,50%. Kebijakan ini dinilai mendukung inflasi yang terkendali, penjagaan nilai tukar rupiah, serta proyeksi peningkatan pertumbuhan kredit sebesar 13% year-on-year pada Juli 2026.

Faktor Domestik dan Global yang Tekan IHSG

IHSG Ditutup Melemah 0,86 Persen Menjadi 6.394,12
(Foto IHSG dari Google Finansial)
Pergerakan bursa domestik dipengaruhi sikap hati-hati investor yang menunggu kepastian kebijakan moneter dari BI. Analisis pasar dari Phintraco Sekuritas sebelumnya memproyeksikan IHSG akan bergerak terbatas atau sideways di kisaran 6.400–6.500 pada perdagangan Rabu.

Tekanan terhadap IHSG juga datang dari faktor internasional, antara lain:

Potensi inflasi akibat kenaikan harga minyak mentah global terkait isu Selat Hormuz

Penutupan bursa Wall Street dan kawasan Asia yang mayoritas melemah (merah)

Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, Jepang, Jerman, dan Prancis yang memicu tekanan pada saham sektor teknologi

Saham Papan Atas: FAST Mentok ARB, BYAN dan Lainnya Tertekan

Di papan perdagangan domestik, emiten pengelola KFC Indonesia PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) menjadi saham dengan koreksi terdalam hingga terkena Auto Reject Bawah (ARB) sebesar 14,72% ke Rp452 per saham. Penurunan tersebut diikuti oleh:

PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI): −10,69%

PT Krida Jaringan Nusantara Tbk (KJEN): −9,50%

PT Bayan Resources Tbk (BYAN): −9,41%

Saham-saham lain yang juga masuk dalam daftar top losers antara lain PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL) turun 11,86% dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) turun 11,76%.

Outlook Pasar

Dengan keputusan BI yang sudah keluar dan tekanan global yang masih membayangi, pasar diperkirakan akan tetap bergerak dalam koridor terbatas dalam beberapa hari ke depan. Investor kemungkinan akan lebih selektif memilih emiten dengan fundamental kuat dan eksposur terhadap sektor yang diuntungkan dari stabilitas suku bunga dan nilai tukar.

 

Next Post Previous Post