Indonesia dan Jerman Jajaki Kerjasama Energi Hijau hingga Pendidikan Vokasi

Indonesia dan Jerman Jajaki Kerjasama Energi Hijau hingga Pendidikan Vokasi

Pemerintah Indonesia berupaya memperkuat kemitraan ekonomi dengan Jerman melalui penjajakan kerja sama di sektor energi hijau, rantai pasok semikonduktor, dan pendidikan vokasi. 

Langkah ini dibahas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menerima kunjungan Menteri Federal untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, Reem Alabali Radovan, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta.

Pertemuan tersebut turut membahas sejumlah proyek strategis yang dinilai dapat memperkuat hubungan ekonomi kedua negara, termasuk percepatan pengembangan energi terbarukan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Dorong Pengembangan PLTS Skala Besar

Indonesia mendorong percepatan realisasi berbagai proyek yang telah masuk dalam pipeline kerja sama dengan Jerman, khususnya di sektor energi terbarukan. Salah satu fokus utama yang dibahas adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala besar.

Proyek tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional sekaligus mendukung upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil.

“Indonesia menyambut delegasi ini untuk mendorong beberapa pipeline project di sektor renewable. Dan juga tentu bagi Indonesia rantai pasok terkait dengan semikonduktor juga hal yang penting,” ujar Airlangga.

Menurut pemerintah, pengembangan energi hijau tidak hanya berkaitan dengan penyediaan listrik bersih, tetapi juga berpotensi membuka peluang investasi baru dan menciptakan lapangan kerja di sektor teknologi ramah lingkungan.

Semikonduktor Jadi Sektor Strategis

Selain energi terbarukan, Indonesia dan Jerman turut mengeksplorasi peluang kerja sama dalam membangun rantai pasok semikonduktor. Sektor ini dinilai semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan terhadap komponen elektronik untuk industri otomotif, telekomunikasi, perangkat pintar, dan teknologi digital.

Penguatan rantai pasok semikonduktor diharapkan dapat mendorong pengembangan industri bernilai tambah di Indonesia. Kerja sama dengan Jerman juga berpotensi mencakup aspek teknologi, investasi, riset, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja.

Pemerintah Indonesia sebelumnya terus mendorong pengembangan ekosistem industri semikonduktor sebagai bagian dari strategi memperkuat sektor manufaktur dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional.

Pendidikan Vokasi Berpeluang Diperluas

Sektor pendidikan vokasi juga menjadi salah satu topik penting dalam pertemuan tersebut. Jerman dikenal memiliki sistem pelatihan kerja yang erat dengan kebutuhan industri, sehingga pengalamannya dinilai relevan bagi pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia.

Kolaborasi kedua negara dapat diarahkan pada penguatan kurikulum, pelatihan tenaga pengajar, sertifikasi kompetensi, serta program kerja sama antara lembaga pendidikan dan dunia usaha.

Pendidikan vokasi yang lebih terhubung dengan kebutuhan industri diharapkan mampu mencetak tenaga kerja terampil untuk mendukung pertumbuhan sektor energi hijau, manufaktur, teknologi, dan industri semikonduktor.

Investasi Jerman Capai US$ 1,23 Miliar

Hubungan ekonomi Indonesia dan Jerman juga didukung oleh peningkatan investasi. Nilai investasi kumulatif Jerman di Indonesia sepanjang 2021 hingga 2026 tercatat mencapai sekitar US$ 1,23 miliar.

Investasi tersebut melibatkan lebih dari 250 perusahaan Jerman yang beroperasi di berbagai sektor. Capaian ini menunjukkan masih besarnya kepercayaan pelaku usaha Jerman terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Pemerintah berharap penguatan kerja sama bilateral dapat mendorong masuknya investasi baru, terutama pada proyek-proyek yang mendukung transisi energi, pengembangan teknologi, dan peningkatan kapasitas industri nasional.

EU-CEPA Ditargetkan Rampung Tahun Ini

Pertemuan Indonesia dan Jerman juga menyinggung proses perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (EU-CEPA).

Airlangga menyampaikan bahwa perjanjian perdagangan tersebut diharapkan dapat diselesaikan dan ditandatangani pada tahun ini. EU-CEPA dinilai penting untuk memperluas akses produk Indonesia ke pasar Eropa sekaligus meningkatkan peluang kerja sama perdagangan dan investasi.

“Dan juga tadi dibahas mengenai EU-CEPA, di mana EU-CEPA ini diharapkan bisa ditandatangani tahun ini,” pungkas Airlangga.

Apabila terealisasi, perjanjian tersebut berpotensi memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dengan negara-negara Uni Eropa, termasuk Jerman, melalui peningkatan arus perdagangan, investasi, dan integrasi rantai pasok.

 

Next Post Previous Post