Harga Minyak Sawit Melonjak ke Level Tertinggi 20 Bulan
Harga minyak sawit mentah (CPO) naik ke level tertinggi dalam sekitar 20 bulan. Kenaikan ini dipicu lonjakan permintaan bahan bakar nabati, penerapan mandatori biodiesel B50 di Indonesia, serta kekhawatiran terhadap gangguan produksi akibat fenomena El Nino.
Perdagangan berjangka minyak sawit di Kuala Lumpur pada Kamis, 20 Agustus 2026, tercatat naik hingga 0,7% menjadi 4.927 ringgit per ton. Level tersebut menjadi posisi intraday tertinggi sejak Desember 2024.
Mandatori B50 Tekan Pasokan Ekspor
Indonesia sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar dunia resmi memberlakukan program mandatori bahan bakar nabati B50. Kebijakan ini meningkatkan porsi penggunaan minyak sawit untuk kebutuhan energi domestik.
Melalui program tersebut, sebagian pasokan CPO yang sebelumnya berpotensi masuk ke pasar ekspor dialihkan untuk produksi biodiesel. Kondisi ini memperketat ketersediaan minyak sawit global, terutama ketika permintaan bahan bakar nabati terus meningkat.
Kebijakan B50 juga berpotensi membatasi volume ekspor minyak sawit Indonesia. Dengan pasokan ekspor yang lebih terbatas, pasar global menjadi lebih sensitif terhadap gangguan produksi di negara-negara penghasil utama.
El Nino Ancam Produksi Sawit
Selain meningkatnya permintaan, pasar juga mengkhawatirkan dampak cuaca kering akibat El Nino. Fenomena ini biasanya menurunkan curah hujan di sejumlah wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia.
Kekeringan dapat menghambat pertumbuhan kelapa sawit serta menurunkan produksi tandan buah segar (TBS). Dampaknya terhadap volume CPO biasanya tidak langsung terlihat karena tanaman sawit memerlukan waktu beberapa bulan untuk merespons tekanan akibat kekurangan air.
Departemen Pertanian Amerika Serikat atau USDA memangkas proyeksi produksi minyak sawit Malaysia untuk musim pemasaran 2026-2027 menjadi 19,7 juta ton akibat perkiraan cuaca kering yang berkaitan dengan El Nino. Dampak kekeringan diperkirakan mulai terasa pada kuartal III dan IV musim tersebut.
Cadangan Global Diproyeksikan Menyusut
USDA juga memperkirakan cadangan minyak sawit global turun ke level terendah dalam sembilan tahun pada musim 2026-2027. Penurunan stok ini mencerminkan kombinasi antara meningkatnya permintaan energi, perlambatan produksi, dan ketidakpastian cuaca.
Malaysia, yang merupakan produsen minyak sawit terbesar kedua dunia, turut menghadapi risiko penurunan hasil panen. Wilayah perkebunan di negara tersebut dilaporkan mengalami periode cuaca kering yang berpotensi mengurangi produktivitas tanaman.
Meski begitu, laporan USDA lain menyebutkan bahwa dampak El Nino terhadap produksi Malaysia dapat berlangsung secara bertahap. Stok akhir Malaysia pada musim 2026-2027 masih diproyeksikan sekitar 2,56 juta ton dan dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik serta sebagian komitmen ekspor.
Gangguan Laut Hitam Dorong Permintaan Alternatif
Kenaikan harga minyak sawit juga dipengaruhi gangguan pasokan komoditas minyak nabati dari kawasan Laut Hitam. Eskalasi konflik di kawasan tersebut menghambat pengiriman komoditas pertanian dari Rusia dan Ukraina.
Kedua negara tersebut merupakan pemasok penting minyak bunga matahari bagi pasar global. Ketika pasokan minyak bunga matahari terganggu, pembeli internasional cenderung beralih ke minyak sawit, minyak kedelai, atau minyak nabati lainnya.
Peralihan permintaan tersebut memberikan dukungan tambahan terhadap harga CPO di tengah kondisi pasokan yang semakin ketat.
Risiko Inflasi Pangan Meningkat
Kenaikan harga minyak sawit terjadi bersamaan dengan penguatan sejumlah komoditas pangan lain, termasuk jagung dan gula. Jika tren ini berlanjut, tekanan inflasi pangan global berpotensi semakin besar.
Minyak sawit digunakan dalam berbagai produk, mulai dari minyak goreng, makanan olahan, kosmetik, hingga bahan bakar nabati. Oleh karena itu, kenaikan harga CPO dapat memengaruhi biaya produksi di berbagai sektor.
Negara-negara yang bergantung pada impor minyak nabati kemungkinan menghadapi peningkatan biaya pembelian. Pada akhirnya, kenaikan tersebut dapat diteruskan kepada konsumen melalui harga produk pangan dan barang konsumsi.
Penguatan Harga Masih Bisa Tertahan
Gnanasekar Thiagarajan, Kepala Strategi Perdagangan dan Lindung Nilai di Kaleesuwari Intercontinental Ltd., menilai harga tertinggi yang dicapai pada Kamis menjadi titik terobosan secara teknis.
Namun, ia mengingatkan bahwa penguatan ringgit Malaysia dapat menahan kenaikan harga CPO lebih lanjut. Ringgit yang lebih kuat membuat komoditas berdenominasi ringgit menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Harga minyak kedelai yang tetap kompetitif juga dapat membatasi peralihan permintaan ke minyak sawit. Karena itu, meskipun prospek CPO masih positif, pergerakan harga berikutnya akan bergantung pada perkembangan cuaca, kebijakan biodiesel, nilai tukar, dan kinerja komoditas minyak nabati lainnya.

