Indonesia Ekspor Perdana 1.000 Ton Beras ke Malaysia

Indonesia Ekspor Perdana 1.000 Ton Beras ke Malaysia

Bertepatan dengan momentum HUT ke-81 RI, Indonesia resmi mengirimkan 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai pengiriman perdana dalam skema ekspor yang disepakati antara Bulog dan Padi dan Beras Borneo Sdn. Bhd. 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut capaian swasembada pangan dan kembalinya ekspor beras sebagai “kado” kemerdekaan, menandai kesiapan pasokan domestik untuk merambah pasar mancanegara.

Rencananya, ekspor akan dilakukan secara bertahap dengan potensi peningkatan volume hingga 200.000 ton untuk memenuhi kebutuhan pasar Sarawak, bahkan berpotensi mencapai 1–1,7 juta ton per tahun sejalan dengan kebutuhan total Malaysia. 

Harga beras yang disepakati sekitar Rp17.000 per kilogram (setara 3,9 ringgit Malaysia), sehingga nilai total potensi ekspor 200.000 ton diperkirakan mencapai Rp3,39 triliun.

Fondasi Pertanian Makin Kuat: Surplus Produksi, Ekspor Naik, Impor Turun

Capaian ekspor ini ditopang oleh lonjakan produksi dan efisiensi impor sektor pertanian. Berdasarkan BPS, nilai ekspor sektor pertanian (produk segar dan olahan) pada 2025 mencapai Rp756,69 triliun, naik 28,26% dibanding 2024, sementara impor sektor pertanian turun 9,66% menjadi Rp389,95 triliun. Kinerja positif berlanjut hingga pertengahan 2026, dengan nilai ekspor komoditas pertanian, kehutanan, dan perikanan periode Januari–Juni 2026 mencapai US$2,59 miliar.

Di sisi pasokan, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tercatat sekitar 5,2–5,25 juta ton, dengan surplus produksi beras nasional sebesar 4,07 juta ton yang turut membantu penghematan anggaran impor hingga Rp34 triliun. “Ini bukan kerja satu program, tapi orkestrasi besar. 

Produksi kita naik, ekspor meningkat, impor kita tekan,” ujar Amran, menegaskan bahwa fondasi pertanian nasional semakin kuat dan mandiri.

Hilirisasi Komoditas Unggulan: CPO sebagai Senjata Strategis

Selain beras, pemerintah menargetkan penguatan hilirisasi komoditas unggulan seperti kelapa sawit untuk meningkatkan daya saing global. Dengan Indonesia dan Malaysia menguasai sekitar 80% produksi CPO dunia, hilirisasi CPO diposisikan sebagai “senjata strategis” untuk menangkap nilai tambah di rantai pasok global.

Next Post Previous Post