Investasi Semester I-2026 Tembus Rp1.010,6 Triliun, HIPMI Dorong Penguatan Industri Nasional

Investasi Semester I-2026 Tembus Rp1.010,6 Triliun, HIPMI Dorong Penguatan Industri Nasional

Realisasi investasi Indonesia pada semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Nilai tersebut tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja.

Berdasarkan laporan Detik Finance, investasi pada sektor hilirisasi menyumbang Rp300,1 triliun, atau sekitar 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional selama enam bulan pertama 2026. Capaian ini mencerminkan peran hilirisasi sebagai salah satu penggerak penguatan struktur industri dalam negeri.

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), Ade Jona Prasetyo, menilai realisasi investasi yang melampaui Rp1.000 triliun dalam satu semester sebagai sinyal positif bagi perekonomian nasional.

“Capaian investasi di atas Rp1.000 triliun dalam enam bulan tentu menjadi sinyal positif. Kami mengapresiasi kerja pemerintah menjaga kepercayaan investor. Sekarang momentum ini perlu kita dorong agar memperkuat industri nasional sekaligus membuka ruang yang semakin besar bagi pengusaha Indonesia,” ujar Ade Jona Prasetyo.

Menurutnya, tingginya investasi perlu diikuti oleh peningkatan nilai tambah yang tinggal di Indonesia. Investasi tidak semestinya hanya berhenti pada pembangunan proyek atau masuknya modal, melainkan harus menciptakan ekosistem usaha yang memberi ruang bagi perusahaan lokal, UMKM, serta pengusaha daerah untuk berkembang.

Ade Jona menekankan bahwa efek berganda investasi akan semakin besar apabila kehadiran perusahaan besar memunculkan rantai pasok dan perusahaan pendukung di sekitarnya.

“Kalau investasi besar masuk kemudian melahirkan banyak perusahaan pendukung di sekitarnya, di situlah multiplier effect terjadi. Pengusaha daerah jangan hanya melihat investasi datang ke wilayahnya, tetapi harus ikut tumbuh bersama investasi tersebut,” katanya.

HIPMI juga menilai kualitas investasi tidak cukup hanya diukur dari besarnya nilai realisasi. Sejumlah indikator lain perlu menjadi perhatian, antara lain penyerapan tenaga kerja, transfer teknologi, penggunaan produk dalam negeri, serta kemampuan investasi tersebut dalam memperkuat kapasitas pengusaha nasional.

Dalam konteks tersebut, HIPMI mendorong adanya akses pembiayaan yang lebih kuat bagi pelaku usaha domestik, kepastian regulasi, dan kemitraan yang konkret antara investor, perusahaan besar, UMKM, serta pengusaha daerah. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar manfaat investasi dapat tersebar lebih merata hingga ke berbagai wilayah.

“Bagi HIPMI, keberhasilan industrialisasi pada akhirnya terlihat dari seberapa besar nilai tambah yang tinggal di Indonesia, seberapa banyak pengusaha nasional yang ikut tumbuh, dan seberapa luas lapangan kerja yang tercipta. HIPMI siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk memastikan investasi memberikan dampak yang semakin luas bagi perekonomian nasional,” tutup Ade Jona Prasetyo.


 

Next Post Previous Post