Investor Asing Akumulasi Saham BCA Ditengah Tren Pelemahan Harga
Investor asing terus menunjukkan minat tinggi terhadap saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan mencatatkan akumulasi net buy mencapai Rp 259,73 miliar sejak 12 Agustus 2026. Aksi beli ini berlanjut bahkan di tengah koreksi harga saham, menandakan kepercayaan terhadap fundamental emiten perbankan terbesar di Indonesia tersebut.
Aksi Beli Asing dan Pergerakan Harga Saham
| (Foto Saham BBCA dari Google Finansial) |
Rekomendasi Analis: Beli untuk Swing Trade
Melihat tingkat valuasi yang menarik tersebut, Mandiri Sekuritas merekomendasikan aksi beli untuk strategi swing trade dengan titik masuk di kisaran Rp 6.450. Broker ini memproyeksikan pergerakan harga saham dapat menyentuh level Rp 7.000 dalam waktu dekat, memberikan potensi capital gain yang cukup menarik bagi trader.
Sementara itu, Kiwoom Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga yang lebih optimis. Lembaga sekuritas ini menetapkan target harga 12 bulan di level Rp 8.075 per saham, menggunakan kombinasi metode P/BV dan dividend discount model (DDM). Target ini mencerminkan valuasi P/BV 3,3 kali untuk proyeksi 2026, atau potensi kenaikan sekitar 26,6% dari level harga saat ini.
Kinerja Keuangan BCA Semester I-2026: Laba Bersih Rp 29,5 Triliun
Di sisi fundamental, kinerja keuangan BCA pada semester I-2026 menunjukkan ketahanan yang solid. Emiten ini membukukan laba bersih sebesar Rp 29,5 triliun, tumbuh 1,8% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyoroti bahwa laba bersih BCA masih resilien meskipun menghadapi berbagai tantangan makroekonomi. Pertumbuhan kinerja bisnis perusahaan didukung oleh perolehan pre-provision operating profit (PPOP) yang mengalami kenaikan sebesar 2,5% secara tahunan.
"Pendapatan non-bunga yang lebih kuat juga membantu BBCA menahan dampak pelemahan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) dan tekanan NIM," sebut Liza dalam risetnya.
Ekspansi Kredit dan Kekuatan Dana Murah
Kinerja penyaluran kredit total BCA menembus Rp 1.035,6 triliun, tumbuh 8% yoy atau 4,2% secara kuartalan. Sektor kredit korporasi menjadi pendorong utama setelah melonjak 13,6% yoy hingga mencapai Rp 513,4 triliun, sedangkan segmen pembiayaan kendaraan bermotor pada kredit konsumer masih mengalami perlambatan.
Struktur pendanaan emiten ditopang oleh dana murah (CASA) sebesar Rp 1.082,3 triliun yang tumbuh 10,2% yoy. Kekuatan CASA ini menjadi salah satu keunggulan kompetitif BCA dalam menjaga margin keuntungan di tengah tekanan suku bunga. Adapun rasio kredit bermasalah (NPL gross) terjaga di angka 1,9% dan loan at risk (LAR) sebesar 4,9%, menunjukkan kualitas kredit yang masih solid.
Risiko dan Tantangan ke Depan
Meskipun prospek saham BBCA dinilai positif, Kiwoom Sekuritas mencatat beberapa risiko yang perlu diwaspadai investor. Risiko tersebut berupa tekanan NIM yang berkepanjangan, persaingan dana yang semakin ketat, serta potensi pembengkakan biaya kredit jika kondisi ekonomi memburuk.
Namun, dengan fundamental yang kuat, valuasi yang menarik, dan dukungan arus masuk modal asing, saham BBCA tetap menjadi salah satu pilihan utama investor untuk eksposur sektor perbankan di bursa Indonesia.

