Investor Asing Catat Net Buy Rp 648 Miliar di Pasar Saham Indonesia
Investor asing mencatatkan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 648,22 miliar di pasar saham Indonesia pada sesi I perdagangan Kamis (20/8/2026). Aliran dana masuk ini turut mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 1,47 persen ke level 6.487,96.
Aliran Dana Asing dan Saham Primadona
Secara keseluruhan, total pembelian saham oleh investor asing mencapai Rp 2,52 triliun, sementara penjualan tercatat Rp 1,88 triliun di seluruh pasar saham.
Berikut daftar saham dengan net buy asing terbesar pada sesi I:
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): Rp 333,40 miliar (75,56 juta saham) – menjadi saham dengan net buy asing terbesar.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): Rp 186,23 miliar (59,61 juta saham).
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Rp 114,91 miliar (36,60 juta saham).
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Rp 105,51 miliar (155,84 juta saham).
PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Rp 66,84 miliar.
PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB): Rp 55,11 miliar.
PT Darma Henwa Tbk (DEWA): Rp 38,38 miliar.
Dominasi saham sektor tambang dan perbankan dalam daftar ini menunjukkan preferensi asing terhadap emiten dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi.
IHSG Menguat Signifikan di Sesi I
IHSG ditutup di level 6.487,959 pada sesi I, naik 93,83 poin atau 1,47 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Indeks ini dibuka di 6.447,250 dan bergerak dalam kisaran 6.444,395–6.493,754 sepanjang sesi.
Dari sisi sentimen pasar, 417 saham menguat, 187 saham melemah, dan 185 saham stagnan. Volume transaksi mencapai 22,461 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 7,980 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 1.298.096 kali.
Kapitalisasi Pasar dan Outlook
Hingga akhir sesi I, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat mencapai Rp 11.428,721 triliun. Penguatan IHSG ini juga menjadikan pasar saham Indonesia sebagai salah satu yang terbaik di Asia pada sesi tersebut.
Dengan masuknya dana asing yang signifikan dan penguatan hampir di seluruh sektor, sentimen positif diperkirakan berlanjut ke sesi II, terutama jika didukung oleh faktor eksternal seperti stabilitas nilai tukar rupiah dan perkembangan kebijakan moneter global.

