JARR dan BYAN Bantah Rumor Akuisisi Saham Senilai 62 Persen

JARR dan BYAN Bantah Rumor Akuisisi Saham Senilai 62 Persen

Manajemen PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) secara resmi membantah isu aksi korporasi berupa pengambilalihan mayoritas saham BYAN oleh Grup Jhonlin milik pengusaha H Samsudin Andi Arsyad atau Haji Isam. 

Pernyataan resmi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia pada Rabu, 19 Agustus 2026 tersebut sekaligus merespons lonjakan spekulatif serta penurunan tajam harga saham kedua perseroan di bursa efek.

Kronologi Gejolak Harga Saham

JARR dan BYAN Bantah Rumor Akuisisi Saham Senilai 62 Persen
(Foto Saham BYAN dari Google Finansial)
Sinyal pelepasan saham massal langsung terlihat pada perdagangan sesi pertama Rabu, 19 Agustus 2026, ketika saham BYAN terperosok 6,95 persen ke posisi Rp16.075 per lembar dengan volume transaksi mencapai 3,79 juta saham senilai Rp61,63 miliar. 

Koreksi mendadak ini berbalik arah secara drastis dari perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026, saat harga saham BYAN melesat 19,97 persen hingga menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) di level Rp17.275 per lembar dan saham JARR menguat 24,88 persen ke posisi Rp2.510.

Pada penutupan perdagangan 19 Agustus 2026, saham BYAN tercatat merosot 9,41 persen ke Rp15.650 meski sempat naik hingga menyentuh Rp18.650 pada sesi pertama. Volatilitas ekstrem ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap rumor yang belum terkonfirmasi secara resmi.

Klarifikasi Manajemen JARR

Direktur Utama JARR Indra Irawan memberikan klarifikasi tertulis mengenai ketidaktahuan perseroan atas rumor pengambilalihan emiten pertambangan batu bara tersebut. "Sampai dengan tanggal penyampaian surat ini, perseroan maupun grup tidak memiliki rencana untuk melakukan akuisisi atas saham Bayan Resources," jelas Indra.

Indra menambahkan bahwa manajemen JARR belum mendapatkan pemberitahuan resmi dari pemegang saham pengendali, meski tetap membuka peluang investasi masa depan serta berkomitmen menyampaikan fakta material yang pasti dan mengikat. Hingga saat ini tidak terdapat rencana untuk mengakuisisi PT Bayan Resources Tbk (BYAN), sehingga Perseroan tidak ada rencana keterbukaan informasi maupun timeline pelaksanaan akuisisi yang dapat disampaikan.

Pernyataan Resmi BYAN

Langkah penegasan senada disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan BYAN Jenny Quantero guna meredam spekulasi pasar yang menyebutkan pihak Haji Isam membidik 62,2 persen saham BYAN milik keluarga Low Tuck Kwong. "Perseroan tidak mengetahui adanya rencana transaksi pengambilalihan dan/atau akuisisi sekitar 62,2% saham perseroan oleh Haji Isam atau pihak yang terafiliasi dengan Haji Isam," ujarnya.

Jenny menegaskan bahwa internal perseroan tidak mengantongi dokumen transaksi maupun rincian porsi nilai saham yang digosipkan, serta memastikan seluruh operasional perusahaan berjalan normal tanpa kendala material. "Perseroan juga tidak memiliki informasi mengenai porsi saham yang akan dialihkan dan/atau nilai transaksi, sehubungan dengan informasi mengenai rencana pengambilalihan dan/atau akuisisi saham tersebut," kata Jenny.

Keterangan resmi tersebut sekaligus mematahkan spekulasi pasar yang sempat mengaitkan rencana Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) JARR pada 21 September 2026 dengan rencana perubahan struktur pengendalian BYAN. "Perseroan tidak memiliki informasi atau kejadian material lainnya yang belum diungkapkan kepada publik yang dapat memengaruhi kelangsungan usaha perseroan dan/atau harga saham Perseroan," tutup Jenny.

Peringatan Analis untuk Investor Ritel

Menanggapi gejolak harga akibat spekulasi ini, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengingatkan pentingnya transparansi informasi dari otoritas bursa untuk melindungi investor ritel yang rentan terjebak aksi spekulatif. "Kalau isu seperti ini, yang harus memberikan informasi secara transparan kan dari bursa sebenarnya," kata Rully.

Rully menekankan bahwa perlindungan terhadap investor ritel sangat mendesak agar pemodal tidak mengalami kerugian besar saat membeli saham di harga tinggi sebelum rumor terbukti tidak benar. "Retail investor yang lebih suka hal-hal yang spekulatif," imbuh Rully. Meskipun memiliki risiko kerugian tinggi saat harga saham berbalik jatuh, minat pemodal ritel terhadap saham yang digerakkan oleh dinamika sentimen rumor dinilai tetap mendominasi pasar.

"Harus tetap dilindungi juga kan, jangan sampai mereka akhirnya rugi," ungkap Rully. Guna memastikan kewaspadaan para pelaku pasar modal, Rully mengimbau investor untuk selalu mencermati fundamental perusahaan dibandingkan menanggapi isu liar yang tidak terverifikasi. "Tapi tetap aja mereka pada dasarnya senang yang kaya gitu," tutup Rully.

Implikasi bagi Pasar Modal Indonesia

Kasus ini menyoroti kerentanan pasar modal Indonesia terhadap rumor yang belum terkonfirmasi, terutama ketika melibatkan emiten besar dengan kapitalisasi pasar signifikan. Volatilitas harga yang dipicu spekulasi dapat menciptakan ketidakstabilan dan merugikan investor yang tidak memiliki akses informasi memadai.

Peran bursa dan regulator menjadi krusial dalam memastikan aliran informasi yang transparan dan tepat waktu untuk melindungi kepentingan investor, khususnya investor ritel yang cenderung lebih rentan terhadap dinamika sentimen pasar.

 

Next Post Previous Post