Konsumsi Listrik Bali Tumbuh Delapan Persen pada Semester I 2026
PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali mencatat pertumbuhan konsumsi listrik di Pulau Dewata mencapai 8,02 persen pada Semester I 2026. Angka ini menjadikan Bali sebagai salah satu wilayah dengan peningkatan konsumsi energi listrik tertinggi di Indonesia.
Indikator Penguatan Ekonomi
General Manager PLN UID Bali, Ajrun Karim, menjelaskan bahwa lonjakan konsumsi listrik ini mencerminkan penguatan roda perekonomian masyarakat secara luas. Menurutnya, pertumbuhan konsumsi listrik bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi, yang menandakan bahwa listrik telah menjadi instrumen dasar kehidupan dan masuk ke semua simpul aktivitas.
"Pertumbuhan listriknya melampaui pertumbuhan ekonomi. Bisa disimpulkan bahwa listrik sudah masuk ke semua simpul-simpul kehidupan. Listrik menjadi salah satu instrumen dasar kehidupan. Ketika kebutuhan listrik terus bergerak, itu menunjukkan roda ekonomi juga terus berputar," ujar Ajrun Karim.
Beban Puncuk Tembus 1.300 MW
Saat ini, beban puncak tertinggi pada sistem kelistrikan Bali telah menyentuh kisaran 1.300 MW. Situasi ini mendorong PLN untuk mempercepat langkah penambahan kapasitas pembangkit demi menjamin kelancaran aktivitas publik dan sektor bisnis.
Ajrun menjelaskan bahwa beban puncak Bali memiliki karakteristik unik karena hampir sama dengan beban siang hari. Beban siang berada di kisaran 1.260-1.285 MW, sementara beban puncak mencapai 1.290-1.300 MW, menunjukkan perbedaan yang sangat kecil.
Kondisi ini menjadi tantangan serius mengingat total kapasitas daya terpasang dari seluruh pembangkit di Bali hanya sekitar 1.477 MW. PLN memperingatkan bahwa tanpa tambahan pasokan energi hingga 2027, Bali berpotensi mengalami skema nyala bergilir.
Fokus pada Energi Baru Terbarukan (EBT)
Untuk mengantisipasi kenaikan beban listrik di masa depan, PLN memfokuskan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai salah satu pilar utama strategi jangka panjang. Fleksibilitas pembangunan PLTS menjadi keunggulan, baik melalui skema atap (rooftop), ground mounted (pemandangan darat), maupun terapung di atas bendungan.
Langkah ini diselaraskan dengan dokumen RUPTL 2025-2034 serta mendukung Program PLTS 100 Gigawatt (GW) yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
"PLTS menjadi salah satu tumpuan utama karena pembangunan yang paling mudah dan cepat adalah PLTS, sesuai RUPTL 2025-2034 dan program nasional PLTS 100 GW. Harapannya dengan pengembangan pembangkit energi terbarukan, Bali nantinya dapat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya," papar Ajrun Karim.
Program PLTS 100 GW Pemerintah
Pemerintah pusat menargetkan pembangunan PLTS hingga 100 GW untuk memperkuat kemandirian energi nasional. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan bahwa pembangunan PLTS 30 GW akan dimulai pada 2026 sebagai tahap pertama dari proyek ambisius ini.
Program ini telah masuk dalam revisi RUPTL PLN 2025-2034 dan ditargetkan dapat menghemat biaya produksi listrik hingga Rp 73,9 triliun setiap tahun dari penurunan biaya pokok produksi.
Kemandirian Energi untuk Pariwisata Bali
Kemandirian pasokan listrik dinilai krusial mengingat peran vital Bali sebagai hub pariwisata dan ekonomi nasional. Ketersediaan daya yang handal tidak hanya menyasar rumah tangga, tetapi juga menopang sektor perhotelan, restoran, pusat perbelanjaan, sarana publik, hingga industri kreatif.
Hingga saat ini, PLN UID Bali melayani sekitar 1,547 juta pelanggan di seluruh Bali.
"Kami berharap listrik tidak digunakan hanya sebagai media penerangan, lebih jauh, listrik digunakan sebagai penggerak ekonomi mikro maupun makro, penciptaan lapangan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat," tutup Ajrun Karim.
Proyeksi Kebutuhan Listrik Bali
Pemerintah Provinsi Bali juga tengah memetakan wilayah potensial untuk pembangunan PLTS, termasuk mengubah lahan tak produktif menjadi pembangkit listrik tenaga surya. Pada 2027, kebutuhan listrik Bali diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 1.400 MW, mendekati kapasitas daya mampu yang tersedia saat ini.
Dengan pertumbuhan konsumsi yang konsisten dan beban puncak yang terus meningkat, pengembangan EBT menjadi kunci untuk memastikan ketahanan energi Bali di masa depan sambil mendukung target transisi energi nasional.

