Kemenkes Perkuat Logistik Kesehatan bagi 5,4 Juta Warga Terdampak Asap Karhutla

Kemenkes Perkuat Logistik Kesehatan bagi 5,4 Juta Warga Terdampak Asap Karhutla

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat penyaluran bantuan logistik kesehatan untuk menangani dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah menjangkau sekitar 5,4 juta warga di tujuh provinsi Indonesia.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, penanganan dampak kesehatan akibat karhutla menjadi perhatian serius pemerintah. Upaya tersebut dilakukan melalui distribusi masker, penyediaan konsentrator oksigen, kesiapan fasilitas kesehatan, hingga penguatan layanan bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan.

Jutaan Masker Disalurkan

Kemenkes telah membagikan sekitar 5,3 juta masker ke daerah terdampak karhutla. Selain masker yang sudah didistribusikan, pemerintah juga memastikan persediaan di tingkat provinsi masih tersedia sekitar 2,7 juta masker untuk mendukung kebutuhan berikutnya.

Masker menjadi salah satu perlengkapan utama dalam perlindungan masyarakat dari paparan asap. Kabut asap karhutla dapat membawa partikel polutan yang berisiko mengganggu saluran pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan penyakit penyerta.

Tak hanya masker, Kemenkes juga menyiapkan konsentrator oksigen untuk membantu penanganan warga yang mengalami keluhan pernapasan akibat paparan asap. Dukungan logistik itu melengkapi kesiapan layanan kesehatan di berbagai daerah terdampak.

Menjangkau Tujuh Provinsi

Dampak karhutla dilaporkan meluas di 63 kabupaten dan kota yang berada di tujuh provinsi. Sebelumnya, wilayah terdampak mencakup Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Selain pengadaan alat kesehatan, Kemenkes turut menyiagakan sejumlah layanan pendukung, antara lain:

Public Safety Center untuk respons kedaruratan kesehatan.

Pos pelayanan kesehatan di titik terdampak.

Rumah sakit rujukan bagi pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan.

Mobilisasi bantuan logistik kesehatan.

Penguatan rujukan dan layanan untuk gangguan pernapasan.

Pada respons sebelumnya, Kemenkes juga telah mengerahkan ratusan tenaga medis dan tenaga kesehatan, termasuk dokter, perawat, bidan, serta epidemiolog. Dukungan tersebut dipusatkan terutama pada wilayah yang mengalami dampak kabut asap cukup berat.

Kasus ISPA Meningkat

Karhutla berpotensi memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Data yang disampaikan Wamenkes Dante menyebut jumlah kasus ISPA pada periode Juli hingga Agustus 2026 mencapai 13.449 kasus, sementara angka kasus yang tercatat berkaitan dengan situasi karhutla mencapai 4.082 orang.

Asap hasil pembakaran hutan dan lahan dapat mengandung partikel halus PM2,5 serta sejumlah zat pencemar lain yang berisiko masuk ke sistem pernapasan. Karena itu, kelompok rentan perlu memperoleh perlindungan lebih, terutama dengan membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Kemenkes sebelumnya menginstruksikan fasilitas kesehatan di daerah terdampak untuk memberi perhatian khusus kepada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita komorbid. Pemerintah juga menyiapkan Rumah Oksigen, yakni ruang yang lebih terlindungi dari asap dan didukung penyaring udara serta konsentrator oksigen untuk warga dengan keluhan sesak napas.

Imbauan bagi Masyarakat

Masyarakat di wilayah yang terdampak kabut asap diimbau untuk memakai masker saat beraktivitas di luar rumah, mengurangi paparan asap, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, nyeri dada, atau iritasi mata yang berat.

Ketersediaan logistik dan kesiapan layanan kesehatan diharapkan dapat menekan risiko gangguan kesehatan di tengah meluasnya dampak asap karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.

 

Next Post Previous Post