Kurs Dolar-Rupiah, Kamis 6 Agustus 2026, Dolar pada Rupiah Senilai Rp 17.913

Kurs Dolar-Rupiah, Kamis 6 Agustus 2026, Dolar pada Rupiah Senilai Rp 17.913
(Foto Kurs Dolar-Rupiah dari Bank BCA)
Kurs dolar-rupiah pada perdagangan Kamis, 6 Agustus 2026, berada di level Rp17.913 per dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tersebut menunjukkan rupiah masih bergerak menguat terhadap mata uang Negeri Paman Sam di tengah sentimen positif dari dalam maupun luar negeri.

Pergerakan rupiah pada pagi hari ini melanjutkan tren penguatan setelah pada perdagangan sebelumnya, Rabu (5/8/2026), rupiah ditutup di level Rp17.933 per dolar AS. Dengan demikian, rupiah menguat sekitar 20 poin atau 0,11 persen ke posisi Rp17.913 per dolar AS.

Data pasar menunjukkan rupiah sempat dibuka pada level Rp17.912 per dolar AS, menguat 21 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Rupiah Dipengaruhi Sentimen Positif

Penguatan rupiah ditopang oleh sejumlah sentimen positif, salah satunya penurunan harga minyak dunia. Optimisme pasar terhadap kemungkinan membaiknya situasi di kawasan Selat Hormuz turut menekan harga minyak mentah, sehingga memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih kuat dari perkiraan juga menjadi katalis positif bagi pergerakan mata uang Garuda. Ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tercatat tumbuh 5,29 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).

Dari pasar global, indeks dolar AS juga mengalami pelemahan tipis. Indeks dolar tercatat berada di level 99,66, turun dari posisi sebelumnya di 99,67. Pelemahan indeks dolar membuat sejumlah mata uang Asia ikut menguat terhadap dolar AS.

Perkiraan Pergerakan Hari Ini

Analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan Kamis. Rupiah berpeluang melanjutkan penguatan apabila tidak ada sentimen negatif baru dari pasar global.

Sebelumnya, rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS. Namun, terdapat pula prediksi bahwa rupiah dapat berbalik melemah dan ditutup di area Rp17.930–Rp17.980 per dolar AS.

Pelaku pasar masih mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, pergerakan harga minyak dunia, serta data ketenagakerjaan AS. Data tenaga kerja, termasuk Nonfarm Payrolls (NFP), akan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Next Post Previous Post