Laba Bersih Telkom Indonesia Naik 1,43 Persen Jadi Rp10,62 Triliun pada Semester I 2026
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) mencatatkan kinerja keuangan yang positif sepanjang semester I 2026. Laba bersih emiten telekomunikasi pelat merah itu naik 1,43 persen menjadi Rp10,62 triliun, didorong oleh penguatan bisnis data dan teknologi informasi.
Kenaikan laba tersebut terjadi seiring pertumbuhan pendapatan perseroan yang mencapai Rp75,88 triliun, naik 3,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp73 triliun. Kontributor terbesar masih datang dari segmen data, internet, dan jasa teknologi informatika yang terus menjadi mesin utama pendapatan Telkom.
Pendapatan Telkom Didorong Layanan Data
Berdasarkan laporan keuangan yang dikutip dari Bloombergtechnoz, segmen data, internet, dan jasa teknologi informatika membukukan pendapatan Rp48,18 triliun, meningkat dari Rp43,33 triliun pada semester I 2025. Kenaikan ini menunjukkan bahwa layanan berbasis konektivitas digital masih menjadi penopang utama bisnis TLKM.
Jika dirinci, layanan internet dan data seluler melonjak dari Rp33,96 triliun menjadi Rp38,13 triliun. Selain itu, pendapatan dari internet, komunikasi data, dan jasa teknologi informatika juga naik tipis dari Rp7,07 triliun menjadi Rp7,16 triliun.
Segmen jaringan pun ikut tumbuh dari Rp1,85 triliun menjadi Rp2,11 triliun. Sementara itu, kategori layanan lainnya meningkat menjadi Rp3,45 triliun dari sebelumnya Rp3,3 triliun.
Beberapa Segmen Masih Tertekan
Meski mayoritas lini bisnis mencatat pertumbuhan, beberapa segmen Telkom justru mengalami penurunan. Pendapatan IndiHome turun tipis menjadi Rp12,8 triliun dari sebelumnya Rp13,25 triliun.
Penurunan juga terjadi pada pendapatan interkoneksi yang menyusut dari Rp4,96 triliun menjadi Rp4,45 triliun. Adapun pendapatan dari telepon turun lebih dalam ke Rp3,44 triliun dari Rp4,85 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Kondisi ini menegaskan pergeseran konsumsi layanan telekomunikasi ke arah data dan internet, sementara layanan tradisional masih terus mengalami tekanan.
Beban Operasional Naik
Di sisi biaya, Telkom mencatat kenaikan pada sejumlah pos beban operasional. Beban operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi naik menjadi Rp21,47 triliun dari Rp19,76 triliun.
Beban penyusutan dan amortisasi juga meningkat menjadi Rp17,2 triliun dari Rp16,82 triliun. Selain itu, beban umum dan administrasi turut bertambah dari Rp3,34 triliun menjadi Rp3,67 triliun.
Kenaikan beban ini menunjukkan adanya tekanan operasional, namun masih mampu diimbangi oleh pertumbuhan pendapatan dan arus kas yang solid.
Neraca Keuangan Tetap Solid
Hingga akhir Juni 2026, total aset Telkom tercatat naik menjadi Rp303,09 triliun dari Rp287,76 triliun pada akhir 2025. Lonjakan terbesar terlihat pada kas dan setara kas yang mencapai Rp54,58 triliun, naik dari Rp34,23 triliun.
Di sisi kewajiban, total liabilitas meningkat dari Rp137,22 triliun menjadi Rp168,24 triliun. Sementara itu, ekuitas tercatat menurun ke Rp134,85 triliun dari sebelumnya Rp150,54 triliun.
Meski begitu, arus kas bersih dari aktivitas operasional tetap kuat di level Rp34,86 triliun, lebih tinggi dibandingkan Rp32,57 triliun pada semester I 2025. Ini menandakan fundamental operasional Telkom masih terjaga dengan baik.

