Laba Lippo Karawaci Melonjak 179 Persen pada Semester I-2026

Laba Lippo Karawaci Melonjak 179 Persen pada Semester I-2026

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) membukukan lonjakan kinerja keuangan yang sangat kuat pada semester I-2026. Emiten properti ini mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 385,44 miliar, naik 179,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 137,90 miliar.

Kenaikan laba tersebut ditopang oleh efisiensi operasional dan penguatan kinerja bisnis inti, terutama dari sektor real estat. Meski pendapatan terkoreksi, perseroan berhasil menekan beban pokok dan memperkuat margin laba.

Pendapatan Turun, Laba Justru Naik

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 30 Juni 2026, pendapatan LPKR tercatat Rp 3,61 triliun, turun 12,4 persen dari Rp 4,12 triliun pada semester I-2025. Setelah dikurangi beban pajak final, pendapatan neto berada di level Rp 3,53 triliun.

Namun, beban pokok pendapatan berhasil ditekan dari Rp 2,63 triliun menjadi Rp 2,00 triliun, sehingga laba bruto menguat menjadi Rp 1,53 triliun. Laba usaha juga melonjak dari Rp 258,78 miliar menjadi Rp 417,65 miliar, sementara laba per saham dasar naik menjadi Rp 5,44 dari sebelumnya Rp 1,95.

Aset Stabil, Liabilitas Menurun

Hingga 30 Juni 2026, total aset LPKR tercatat stabil di Rp 49,22 triliun. Aset lancar berada di Rp 29,11 triliun, meski kas dan setara kas turun menjadi Rp 1,41 triliun dari Rp 1,96 triliun pada akhir 2025.

Di sisi lain, total liabilitas turun menjadi Rp 17,86 triliun dari Rp 18,20 triliun pada akhir 2025. Ekuitas perseroan naik menjadi Rp 31,36 triliun, mencerminkan dukungan akumulasi laba bersih semester pertama.

Bisnis Properti Jadi Penopang

Kinerja LPKR pada paruh pertama 2026 ditopang kuat oleh penyerapan produk properti, khususnya rumah tapak di segmen terjangkau dan menengah. Strategi peluncuran proyek baru terbukti efektif menjaga momentum penjualan.

CEO LPKR John Riady mengatakan pra penjualan perseroan mencapai Rp 3,70 triliun atau 62 persen dari target tahunan. Dari total tersebut, segmen hunian tapak menyumbang 79 persen, menunjukkan tingginya permintaan dari pembeli rumah pertama dan end-user.

Park Serpong Dorong Penjualan

Penjualan LPKR juga ditopang oleh peluncuran Park Serpong Phase 7 dan Phase 8, dengan produk seperti Goldtops, Gold, Silver, Bronze, Urban, dan Treetops. Di tingkat holdco, penjualan rumah tinggal menyumbang Rp 2,22 triliun, unit komersial Rp 464 miliar, kavling tanah Rp 30 miliar, dan lahan pemakaman San Diego Hills Rp 65 miliar.

Sebanyak 72 persen konsumen memanfaatkan fasilitas KPR untuk pembelian unit, menandakan masih kuatnya permintaan pembiayaan perumahan di pasar.

 

Next Post Previous Post