Mengapa Tugu Biawak Wonosobo Viral? Ini Lokasi, Fakta Unik, dan Alasan
Tugu Biawak Wonosobo menjadi perbincangan di media sosial karena bentuknya sangat realistis, meskipun dibuat dengan anggaran yang relatif terbatas. Monumen tersebut berada di jalur Wonosobo–Banjarnegara dan disebut sebagai salah satu ikon unik dari Desa Krasak, Kecamatan Selomerto.
Keunikan bentuk, cerita di balik pembangunannya, serta sumber dana yang bukan berasal dari APBD membuat tugu ini menarik perhatian masyarakat luas.
Lokasi Tugu Biawak Wonosobo
Tugu Biawak berada di Desa Krasak, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Lokasinya terletak di jalur utama Wonosobo–Banjarnegara sehingga mudah terlihat oleh pengendara yang melintas.
Karena berada di jalur yang cukup ramai, banyak pengguna jalan berhenti untuk mengambil foto dan video. Konten-konten tersebut kemudian menyebar melalui TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform media sosial lainnya.
Tugu ini juga dikenal dengan nama Tugu Krasak Menyawak. Letaknya yang berada di kawasan desa membuat monumen tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penanda wilayah, tetapi juga menjadi identitas bagi masyarakat setempat.
Mengapa Tugu Biawak Menjadi Viral?
Ada beberapa alasan utama yang membuat Tugu Biawak Wonosobo ramai diperbincangkan.
1. Bentuknya sangat realistis
Daya tarik utama tugu ini terletak pada bentuk patung biawak yang tampak seperti hewan sungguhan. Detail pada sisik, tubuh, kaki, ekor, hingga ekspresi wajah dibuat dengan sangat teliti.
Dari kejauhan, patung tersebut bahkan dapat terlihat seperti biawak berukuran raksasa yang sedang memanjat bagian tugu. Tampilan realistis inilah yang membuat banyak orang terkejut ketika pertama kali melihatnya.
Foto dan video yang menampilkan patung tersebut kemudian menarik perhatian warganet karena hasil akhirnya dinilai jauh lebih bagus daripada perkiraan berdasarkan anggaran pembangunannya.
2. Anggarannya disebut hanya sekitar Rp50 juta
Tugu Biawak juga viral karena biaya pembangunannya disebut sekitar Rp50 juta. Angka tersebut dianggap cukup kecil jika dibandingkan dengan ukuran dan tingkat detail patung yang dihasilkan.
Sejumlah laporan menyebut tugu tersebut memiliki tinggi sekitar 7 meter dan lebar sekitar 4 meter. Proses pengerjaannya berlangsung kurang lebih satu setengah bulan dan rampung pada April 2025.
Namun, angka Rp50 juta perlu dipahami sebagai angka yang beredar dalam pemberitaan dan percakapan publik. Seniman pembuatnya, Arianto, disebut tidak mengungkapkan secara pasti biaya keseluruhan pembangunan dan menilai angka tersebut bisa saja tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi pengerjaan di lapangan.
3. Dibangun tanpa APBD dan dana desa
Faktor lain yang memperkuat perhatian publik adalah sumber pendanaannya. Tugu tersebut disebut tidak menggunakan APBD maupun dana desa.
Pembiayaan berasal dari CSR BUMD Kabupaten Wonosobo dan swadaya masyarakat. Warga turut membantu melalui gotong royong, termasuk menyediakan konsumsi selama proses pembangunan.
Cerita tersebut membuat Tugu Biawak dipandang sebagai contoh partisipasi masyarakat dalam mempercantik lingkungan sekaligus menciptakan ikon desa.
4. Mengangkat identitas lokal
Tugu Biawak tidak dibuat tanpa alasan. Keberadaan biawak disebut berkaitan dengan kondisi lingkungan dan cerita masyarakat di sekitar Desa Krasak.
Bagi warga setempat, biawak menjadi bagian dari identitas kawasan. Karena itu, hewan tersebut dipilih sebagai inspirasi monumen untuk memperkenalkan karakter Desa Krasak kepada orang-orang yang melintas di jalur Wonosobo–Banjarnegara.
Selain menjadi penanda lokasi, tugu ini juga dianggap memiliki pesan ekologis. Patung tersebut mengingatkan masyarakat bahwa satwa dan lingkungan sekitar merupakan bagian dari kehidupan lokal yang perlu dijaga.
Fakta Unik Tugu Biawak
Berikut sejumlah fakta menarik mengenai monumen yang tengah viral tersebut:
Tugu berada di Desa Krasak, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo.
Lokasinya terletak di jalur Wonosobo–Banjarnegara.
Patung memiliki ukuran sekitar 7 meter dengan lebar kurang lebih 4 meter.
Pembangunan dimulai sekitar Februari 2025 dan rampung pada April 2025.
Waktu pengerjaannya disebut sekitar satu setengah bulan.
Biaya yang banyak diberitakan berada di kisaran Rp50 juta.
Pembangunan diinisiasi oleh pemuda karang taruna setempat.
Pengerjaan patung ditangani seniman asal Wonosobo bernama Arianto.
Dana pembangunan berasal dari CSR BUMD dan swadaya masyarakat.
Tugu tersebut tidak menggunakan APBD maupun dana desa.
Dibuat oleh Karang Taruna dan Warga
Pembangunan Tugu Biawak melibatkan pemuda karang taruna dan masyarakat Desa Krasak. Keterlibatan warga membuat proses pembangunan tidak hanya menjadi proyek pembuatan patung, tetapi juga kegiatan gotong royong.
Seniman Arianto dipercaya untuk mengerjakan bentuk utama patung. Keahliannya dalam membuat detail tubuh biawak menjadi salah satu faktor yang membuat hasil akhir tugu terlihat hidup dan realistis.
Dukungan masyarakat juga terlihat dari penyediaan kebutuhan selama proses pengerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa tugu tersebut lahir dari kolaborasi antara pemuda desa, seniman, BUMD, dan warga setempat.
Tugu Biawak Jadi Spot Foto Baru
Setelah foto dan videonya menyebar di media sosial, Tugu Biawak mulai didatangi orang-orang yang penasaran. Pengendara yang melewati jalur tersebut kerap berhenti untuk melihat patung secara langsung.
Bagi sebagian orang, tugu ini menjadi spot foto singkat saat melakukan perjalanan menuju Wonosobo, Banjarnegara, maupun kawasan wisata Dieng. Kehadirannya juga berpotensi membantu mengenalkan Desa Krasak kepada wisatawan dari luar daerah.
Meski demikian, pengunjung tetap perlu memperhatikan keselamatan karena lokasi tugu berada di tepi jalur lalu lintas. Sebaiknya tidak berhenti sembarangan, menghalangi kendaraan, atau mengambil foto dari posisi yang membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lain.

