Saham BUMI Dilego Asing Rp 172,9 Miliar Meski Laba Melonjak
Aksi jual investor asing terhadap saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih berlanjut di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI). Sepanjang periode 27 hingga 31 Juli 2026, asing mencatatkan net sell sebesar Rp 172,9 miliar di saham emiten batu bara tersebut.
Menariknya, tekanan jual di saham BUMI terjadi saat pasar secara keseluruhan justru dibanjiri arus beli asing. Dalam sepekan terakhir, investor luar negeri membukukan net buy Rp 7,1 triliun di BEI, berbalik dari pekan sebelumnya yang mencatat net sell Rp 3,3 triliun.
Saham BUMI Masih Tertekan
Pada perdagangan Jumat, 31 Juli 2026, saham BUMI memang sempat ditutup menguat 1,8% ke level Rp 165. Namun, kenaikan harian tersebut belum cukup menahan pelemahan dalam sepekan penuh, di mana saham BUMI masih terkoreksi 3,5%.
Secara bulanan, kinerja saham BUMI sebenarnya cukup impresif karena melonjak 25%. Akan tetapi, jika dihitung sejak awal tahun, harga saham emiten ini masih merosot tajam 54,9% secara year to date (YTD).
Kinerja Keuangan BUMI Justru Membaik
| (Foto Saham BUMI dari Google Finansial) |
Margin dan Laba Operasi Menguat
Berdasarkan penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 111, beban pokok pendapatan BUMI memang naik 26,3% dari US$ 570,9 juta menjadi US$ 720,8 juta. Meski begitu, laba kotor tetap meningkat 36,3% menjadi US$ 145,9 juta.
Beban usaha juga ikut naik 21,4% menjadi US$ 62,8 juta dari US$ 51,7 juta. Namun, kenaikan tersebut tidak menghambat pertumbuhan laba usaha yang melesat 50,3% menjadi US$ 83,1 juta.
Margin usaha perseroan pun naik menjadi 9,6% dari 8,2%. Laba sebelum pajak bahkan melonjak 102,5% menjadi US$ 104,3 juta dari US$ 51,5 juta.
“Perbaikan itu mencerminkan daya ungkit operasional yang kuat selama semester I-2026,” sebut manajemen BUMI.
Laba Bersih Entitas Induk Melonjak
Kenaikan paling signifikan tercatat pada laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk. Angkanya membumbung 188,4% menjadi US$ 58,9 juta dari US$ 20,4 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Menurut perseroan, lonjakan tersebut juga ditopang oleh kontribusi laba dari unit aset BUMI yang beroperasi di Australia. Aset itu belum masuk dalam basis laporan keuangan BUMI pada semester I-2025.

