Siloam Hospitals Siapkan Rp 6,9 Triliun untuk Akuisisi 14 Perusahaan

Siloam Hospitals Siapkan Rp 6,9 Triliun untuk Akuisisi 14 Perusahaan

PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) bersama anak usahanya, PT Megapratama Karya Bersama, berencana mengakuisisi 14 perusahaan pemilik properti rumah sakit dari First Real Estate Investment Trust (First REIT). Nilai transaksi diperkirakan mencapai Rp6,91 triliun.

Akuisisi Dilakukan dalam Dua Tahap

Rencana transaksi tersebut mencakup pengambilalihan 100 persen saham perusahaan-perusahaan pemilik properti rumah sakit yang selama ini dioperasikan oleh SILO melalui skema sewa jangka panjang dari entitas anak First REIT.

Pelaksanaan akuisisi akan dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama mencakup delapan perusahaan berdasarkan perjanjian yang disepakati sejak 1 April 2026. Sementara itu, tahap kedua melibatkan enam perusahaan dan akan direalisasikan apabila pemegang hak opsi menggunakan opsi jual atau put option.

Langkah ini membuat SILO berpeluang menguasai secara langsung aset-aset rumah sakit yang selama ini digunakan dalam kegiatan operasional perseroan.

Strategi Kurangi Beban Sewa

Akuisisi tersebut dirancang untuk mengurangi beban sewa tahunan yang selama ini harus dibayarkan SILO kepada pemilik properti. Dengan menguasai aset rumah sakit secara langsung, perseroan berpotensi memiliki fleksibilitas lebih besar dalam mengelola jaringan rumah sakit dan merencanakan ekspansi bisnis.

Selain mengurangi pengeluaran sewa, kepemilikan langsung atas properti juga dapat memperkuat struktur aset dan posisi keuangan SILO dalam jangka panjang.

Namun, aksi korporasi ini juga berpotensi meningkatkan beban utang dan biaya keuangan perseroan karena pendanaannya berasal dari fasilitas pinjaman perbankan. Oleh karena itu, kemampuan SILO dalam menghasilkan arus kas operasional akan menjadi salah satu faktor penting setelah transaksi berlangsung.

Didukung Pinjaman Sindikasi Rp14,5 Triliun

Untuk memenuhi kebutuhan pendanaan akuisisi, SILO telah memperoleh fasilitas pinjaman sindikasi dengan plafon hingga Rp14,5 triliun. Fasilitas tersebut memiliki jangka waktu tujuh tahun dan diberikan oleh konsorsium sejumlah bank besar.

Bank yang tergabung dalam konsorsium tersebut meliputi:

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI.

PT Bank CIMB Niaga Tbk.

PT Bank Central Asia Tbk.

PT Bank DBS Indonesia.

MUFG Bank Ltd. Cabang Jakarta.

The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited Cabang Singapura.

Fasilitas pembiayaan tersebut akan digunakan untuk mendukung kebutuhan transaksi sekaligus memperkuat fleksibilitas pendanaan perseroan. Sejumlah aset SILO juga dapat digunakan sebagai jaminan kepada kreditur sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian pinjaman.

Menunggu Persetujuan Pemegang Saham

Rencana akuisisi ini masih harus mendapatkan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). SILO menjadwalkan pelaksanaan RUPSLB pada 22 September 2026.

Apabila mendapatkan persetujuan, transaksi ini akan menjadi salah satu langkah ekspansi terbesar SILO dalam memperkuat penguasaan aset rumah sakit. Perseroan tidak hanya berperan sebagai operator, tetapi juga akan memiliki sebagian besar properti yang mendukung kegiatan operasionalnya.

Di sisi lain, investor perlu mencermati dampak transaksi terhadap rasio utang, biaya bunga, arus kas, serta profitabilitas SILO. Akuisisi dapat memberikan manfaat jangka panjang melalui penghematan biaya sewa, tetapi dalam jangka pendek perseroan berpotensi menghadapi kenaikan beban keuangan.

 

Next Post Previous Post