Trimegah Sekuritas Akumulasi Saham BYAN di Tengah Rumor Akuisisi
Aksi akumulasi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh Trimegah Sekuritas dengan kode broker LG menjadi perhatian pasar modal. Pergerakan tersebut terjadi ketika rumor mengenai rencana Haji Isam melalui Jhonlin Group untuk mengambil alih saham pengendali Bayan Resources kembali mencuat.
Saham BYAN bahkan menguat hingga menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA) pada perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026. Pasar memperbincangkan kemungkinan akuisisi sekitar 62 persen saham BYAN oleh pihak yang terafiliasi dengan Jhonlin Group.
Saham BYAN Naik 20 Persen
| (Foto Saham BYAN dari Google Finansial) |
Broker LG Catat Net Buy Terbesar
Berdasarkan data aktivitas transaksi harian, Trimegah Sekuritas menjadi broker dengan nilai pembelian bersih terbesar pada saham BYAN. Broker berkode LG tersebut membukukan net buy lebih dari Rp3,2 miliar dalam satu hari perdagangan.
Berikut daftar broker dengan akumulasi pembelian bersih saham BYAN:
|
Peringkat |
Nama broker |
Net value |
Harga rata-rata beli |
|
1 |
Trimegah Sekuritas (LG) |
Rp3,28 miliar |
Rp13.934 per saham |
|
2 |
Indo Harvest Sekuritas (IH) |
Rp1,43 miliar |
Rp14.315 per saham |
|
3 |
DBS Vickers Sekuritas |
Rp1,20 miliar |
Rp11.990 per saham |
|
4 |
CGS International Sekuritas |
Rp1,18 miliar |
Rp11.781 per saham |
|
5 |
Ajaib Sekuritas |
Rp403,96 juta |
Rp13.798 per saham |
Rumor Akuisisi oleh Jhonlin Group
Rumor akuisisi mencuat setelah Haji Isam, Dato’ Low Tuck Kwong, dan pemilik Republik Korpora Indonesia, Norman Joesoef, dikabarkan terlihat meninjau area operasional tambang BYAN di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Informasi tersebut kemudian memicu spekulasi bahwa Jhonlin Group tengah membidik saham pengendali Bayan Resources.
Porsi saham yang disebut menjadi target akuisisi mencapai sekitar 62,2 persen. Kepemilikan tersebut berkaitan dengan saham yang dimiliki oleh Dato’ Low Tuck Kwong dan Elaine Low.
Berdasarkan struktur pemegang saham yang beredar, Low Tuck Kwong memiliki sekitar 40,25 persen saham BYAN. Sementara itu, Elaine Low menguasai sekitar 22 persen saham. Jika digabungkan, kepemilikan keduanya mencapai lebih dari 62 persen.
Pengalihan 22 persen saham kepada Elaine Low sebelumnya dilakukan oleh Low Tuck Kwong pada Agustus 2024 sebagai bagian dari pengaturan kepemilikan keluarga. Setelah transaksi tersebut, porsi Low Tuck Kwong turun dari sekitar 62,15 persen menjadi 40,15 persen, sedangkan Elaine Low menjadi pemegang 22 persen saham BYAN.
Struktur Pemegang Saham BYAN
Selain Low Tuck Kwong dan Elaine Low, PT Sumber Suryadaya Prima juga tercatat sebagai salah satu pemegang saham penting Bayan Resources dengan kepemilikan sekitar 10 persen.
Komposisi tersebut membuat saham yang dimiliki Low Tuck Kwong dan Elaine Low menjadi pusat perhatian pasar. Kesamaan antara total kepemilikan sekitar 62 persen dan angka saham yang disebut-sebut menjadi target akuisisi memperkuat spekulasi mengenai potensi transaksi tersebut.
Namun, hingga kini rumor akuisisi tersebut masih belum dapat dianggap sebagai transaksi resmi sebelum terdapat keterbukaan informasi dari pihak Bayan Resources, pemegang saham terkait, atau otoritas pasar modal.
Investor Perlu Waspadai Risiko Rumor
Lonjakan saham BYAN yang dipicu rumor akuisisi menunjukkan tingginya respons pasar terhadap isu perubahan pengendali emiten. Aksi borong oleh sejumlah broker juga memperlihatkan adanya peningkatan minat beli dalam jangka pendek.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati risiko volatilitas. Pergerakan harga yang didorong rumor dapat berubah cepat apabila kabar akuisisi tidak dikonfirmasi atau detail transaksinya berbeda dari ekspektasi pasar.

