Pupuk Indonesia Siapkan Investasi Rp118 Triliun untuk Peremajaan Pabrik
PT Pupuk Indonesia (Persero) menyiapkan investasi hingga Rp118 triliun dalam lima tahun ke depan untuk meremajakan fasilitas produksi yang telah berusia tua. Program tersebut menjadi langkah strategis perusahaan untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat kemandirian industri pupuk nasional, serta menyesuaikan diri dengan perubahan tata kelola subsidi pupuk.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan sebagian besar fasilitas produksi perseroan telah melewati usia ideal operasional. Dari sekitar 30 pabrik yang dimiliki perusahaan, sebanyak 24 pabrik telah beroperasi lebih dari 20 tahun.
“Lebih dari 70% pabrik berbasis nitrogen sudah berusia tua. Dari sekitar 30 pabrik yang kami miliki, 24 pabrik umurnya sudah di atas 20 tahun,” ujar Rahmad dalam diskusi Suar Forum 2026 di BSD City, Tangerang, Jumat (21/8/2026).
Pabrik Tua Tekan Efisiensi
Usia fasilitas produksi yang tinggi berdampak pada meningkatnya biaya pemeliharaan serta penurunan efisiensi operasional. Rahmad menilai periode sekitar 20 tahun merupakan masa kinerja terbaik sebuah pabrik pupuk, sebelum kebutuhan perawatan dan risiko gangguan produksi meningkat.
“Dua puluh tahun itu boleh dibilang merupakan the best performance years. Mungkin economic life sebuah pabrik sekitar 20 tahun,” kata Rahmad.
Kondisi tersebut membuat agenda revitalisasi menjadi mendesak. Pabrik yang lebih modern diharapkan mampu menekan konsumsi energi, menurunkan biaya produksi, menjaga keandalan pasokan pupuk, dan memperbaiki daya saing perusahaan di tengah kebutuhan pupuk nasional yang besar.
Warisan Industri Era 1980-an
Mayoritas pabrik pupuk nasional dibangun pada dekade 1980-an dengan dukungan APBN melalui skema cost plus fee. Namun, setelah Reformasi 1998, pemisahan keuangan antara BUMN dan negara menyebabkan laju pembangunan fasilitas produksi baru melambat.
Tingginya kebutuhan modal juga menjadi kendala utama. Rahmad menyebut pembangunan satu pabrik baru membutuhkan dana sekitar Rp10 triliun. Akibatnya, sepanjang periode Reformasi hingga 2024, Pupuk Indonesia hanya mampu membangun tiga pabrik baru.
Situasi ini menciptakan kesenjangan antara kebutuhan modernisasi industri dan kemampuan pembiayaan perusahaan pada masa sebelumnya.
Subsidi Berbasis Harga Pasar
Rencana investasi besar tersebut memperoleh dukungan dari perubahan skema subsidi pupuk. Jika sebelumnya imbal hasil perusahaan lebih banyak mengacu pada struktur biaya, kini mekanisme subsidi menggunakan harga pasar.
Perubahan itu memberikan ruang finansial yang lebih baik bagi perusahaan. Ketika Pupuk Indonesia melakukan investasi untuk meningkatkan efisiensi, penghematan biaya yang dihasilkan dapat memperkuat margin dan keuntungan perusahaan.
“Kami dibayar berdasarkan harga pasar. Dengan skema tersebut, ketika kami melakukan investasi dan mendapatkan efisiensi, perusahaan juga mendapatkan tambahan keuntungan,” jelas Rahmad.
Skema baru tersebut dipandang penting untuk mendorong industri pupuk agar tidak semata bergantung pada pembiayaan negara. Perusahaan diharapkan mampu membiayai pengembangan fasilitasnya sendiri, meningkatkan profitabilitas, sekaligus membantu penghematan APBN.
Target Pabrik Lebih Muda
Investasi Rp118 triliun akan dilakukan secara bertahap selama lima tahun. Dana tersebut diarahkan terutama untuk peremajaan pabrik dan peningkatan efisiensi sistem produksi.
“Dengan perubahan tersebut, dalam lima tahun ke depan kami akan melakukan investasi sekitar Rp118 triliun. Karena melalui investasi tersebut, pabrik-pabrik dapat diremajakan dan menjadi lebih efisien,” tegas Rahmad.
Melalui program itu, Pupuk Indonesia menargetkan 70 persen fasilitas produksinya berusia di bawah 20 tahun dalam lima tahun mendatang. Target tersebut menandai perubahan besar dalam struktur aset perseroan yang selama ini didominasi oleh pabrik-pabrik berusia tua.
Apabila terlaksana sesuai rencana, peremajaan ini bukan hanya memperbaiki performa keuangan Pupuk Indonesia, tetapi juga memperkuat ketahanan pasokan pupuk bagi sektor pertanian nasional.

