Fed Bersiap Naikkan Suku Bunga untuk Pertama Kali di Era Warsh
Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dalam rapat kebijakan 15–16 September 2026, menandai langkah pengetatan pertama di bawah kepemimpinan Ketua Kevin Warsh.
Pasar keuangan kini sangat yakin The Fed akan mengangkat suku bunga dari kisaran 3,50%–3,75% menjadi 3,75%–4,00% pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September. Probabilitas kenaikan suku bunga 25 bps bahkan dilaporkan melonjak di atas 85% menjelang keputusan, didorong oleh data inflasi AS yang masih panas dan sinyal hawkish dari Warsh.
Langkah ini menjadi tonggak penting karena merupakan kenaikan pertama sejak Kevin Warsh menjabat sebagai Ketua The Fed. Sebelumnya, bank sentral AS lebih banyak menahan suku bunga di level 3,50%–3,75% sepanjang 2026, termasuk pada rapat Januari, Maret, April, Juni, dan Juli.
Sinyal hawkish Warsh semakin kuat setelah pidatonya di simposium Jackson Hole akhir Agustus 2026. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan target inflasi 2% berdasarkan indeks PCE sebagai sasaran “firm and fixed”, serta menyoroti inflasi inti yang masih berada di atas target. Warsh juga menyatakan bahwa suku bunga jangka pendek tetap menjadi alat utama untuk mencapai stabilitas harga, membuka ruang bagi kenaikan suku bunga jika inflasi tidak menunjukkan perbaikan meyakinkan.
Data inflasi terbaru turut memperkuat argumen pengetatan. Inflasi PCE inti AS tercatat masih di sekitar 3,7% year-on-year, jauh di atas target 2% The Fed. Kondisi ini membuat sejumlah analis, termasuk dari UBS dan Barclays, memproyeksikan The Fed dapat menaikkan suku bunga dua kali pada 2026, yaitu pada September dan Desember.
Kenaikan suku bunga di era Warsh juga terjadi di tengah tekanan politik dari Gedung Putih. Presiden Donald Trump sebelumnya diketahui mendorong penurunan suku bunga, namun Warsh tampak lebih fokus pada mandat stabilitas harga. Dilema ini menempatkan Warsh pada posisi sulit: di satu sisi ia ditunjuk dengan ekspektasi menurunkan suku bunga, di sisi lain inflasi yang tinggi memaksanya mengambil langkah pengetatan.
Dampak dari sinyal hawkish ini sudah terasa di pasar. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun naik, sementara peluang kenaikan suku bunga September terus direprice naik sejak pidato Jackson Hole. Penguatan dolar AS juga terjadi seiring meningkatnya ekspektasi suku bunga lebih tinggi.

