Inflasi Indonesia Agustus 2026 Tembus 3,19 Persen

Inflasi Indonesia Agustus 2026 Tembus 3,19 Persen
Indonesia kembali mencatat inflasi tahunan sebesar 3,19 persen pada Agustus 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi Agustus 2025 yang sebesar 2,31 persen. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,21 persen setelah Juli 2026 mengalami deflasi 0,14 persen.

Data Utama Inflasi Agustus 2026

IndikatorNilai
Inflasi tahunan (yoy)3,19%
Inflasi bulanan (mtm)0,21%
SumberBadan Pusat Statistik (BPS)
Tanggal rilis1 September 2026

Angka inflasi tahunan 3,19 persen ini masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 2,5 ± 1 persen.

Pemicu Utama: Harga Pangan Mendominasi

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar, baik secara bulanan maupun tahunan.

Komoditas Pendorong Inflasi Bulanan

Berikut komoditas utama yang mendorong inflasi 0,21 persen pada Agustus 2026:

Daging ayam ras: andil inflasi 0,17 persen

Cabai rawit: andil 0,02 persen

Ikan segar: andil 0,02 persen

Beras: andil 0,02 persen

Komoditas lain (masing-masing andil 0,01 persen): kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, semangka, sigaret kretek mesin, dan sigaret putih mesin

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara keseluruhan mencatat inflasi 0,57 persen dengan andil 0,17 persen terhadap inflasi bulanan.

Tekanan Inflasi Tahunan

Secara tahunan, tekanan inflasi paling dominan juga berasal dari kelompok yang sama:

Makanan, minuman, dan tembakau: inflasi 3,86 persen, andil 1,13 persen

Perawatan pribadi dan jasa lainnya: andil 0,63 persen

Transportasi: andil 0,58 persen

Komoditas pendorong inflasi tahunan meliputi daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin, cabai rawit, daging sapi, sigaret kretek tangan, sigaret putih mesin, dan cabai merah.

Komponen Inflasi: Inti, Bergejolak, dan Diatur Pemerintah

BPS juga memecah inflasi berdasarkan komponen harga:

Komponen inti: andil 1,87 persen (terbesar)

Volatile food (harga bergejolak): andil 0,67 persen

Administered prices (harga diatur pemerintah): andil 0,65 persen

Komponen inti yang mencakup harga barang dan jasa dengan pergerakan relatif stabil tetap menjadi kontributor utama inflasi tahunan.

Konteks dan Implikasi

Kenaikan inflasi Agustus 2026 terutama dipicu oleh memanasnya harga pangan, khususnya protein hewani (ayam, ikan) dan sejumlah bahan pokok seperti beras dan cabai. Tekanan ini membuat komponen volatile food menjadi penyumbang signifikan, meski komponen inti masih dominan.

Bagi konsumen, kenaikan ini terasa pada belanja harian, terutama untuk lauk-pauk dan bahan masak. Bagi pembuat kebijakan, inflasi yang masih dalam target BI memberikan ruang untuk menjaga suku bunga acuan, meski tekanan pangan perlu diawasi agar tidak meluas ke komponen lain.
Next Post Previous Post