Intip Target Baru TPIA: Valuasi Menarik, Katalis Integrasi dan Proyek CA-EDC
Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kembali menjadi sorotan setelah Henan Putihrai Sekuritas menaikkan target harganya ke Rp3.050 per saham.
Langkah ini didorong oleh prospek integrasi bisnis, penguatan margin, dan sejumlah proyek baru yang diperkirakan mendongkrak kinerja emiten petrokimia tersebut dalam beberapa tahun ke depan.
Target Harga dan Potensi Return
| (Foto Saham TPIA dari Google Finansial) |
Proyeksi Kinerja 2026
Analis memproyeksikan pendapatan TPIA pada 2026 mencapai sekitar US$12,3 miliar, atau hampir 5,9 kali lebih tinggi dibanding sebelum integrasi bisnis Aster. EBITDA diperkirakan sekitar US$1,8 miliar pada tahun yang sama. Valuasi implisit tercatat sekitar 7,3x EV/EBITDA 2027, lebih rendah dari rata-rata perusahaan sejenis sebesar 9,8x.
Katalis Utama
Integrasi bisnis dan diversifikasi sumber pendapatan dinilai memperkuat ketahanan margin TPIA.
Kondisi pasar domestik yang masih kekurangan pasokan membuka peluang bagi TPIA untuk menyerap permintaan.
Singapore benchmark gross refining margin (GRM) semester I-2026 sekitar US$21/barel, naik dari sekitar US$8/barel pada 2025; margin Aster tercatat di kisaran US$20–30/barel.
Proyek CA-EDC ditargetkan beroperasi komersial pada 2027, memperluas eksposur ke rantai pasok HPAL di Indonesia.
Bisnis ritel Esso diharapkan memberikan pendapatan lebih berulang dengan peluang ekspansi jaringan di Singapura.
Dukungan Pemegang Saham dan Pendanaan
TPIA mendapat dukungan dari Barito Pacific (BRPT) sebagai pemegang saham utama dengan kepemilikan 34,6%. Thaioil juga disebut memiliki pengalaman di bisnis penyulingan yang relevan. Untuk proyek CA-EDC, tersedia opsi pendanaan dari pemerintah Amerika Serikat sebesar US$200 juta.
Risiko yang Perlu Dipantau
Penurunan margin penyulingan jika GRM melemah dari level sekitar US$21/barel.
Sensitivitas EBITDA terhadap GRM cukup tinggi: setiap perubahan US$1/barel diperkirakan mengubah EBITDA grup sekitar US$78 juta.
Risiko bisnis petrokimia, terutama jika harga minyak berada di bawah asumsi through-cycle sebesar US$562 per ton.

