Iseng Jumlahin Langganan Bulanan, Ternyata Segini
Iseng Jumlahin Langganan Bulanan, Ternyata Segini
Awal bulan kemarin saya lagi nyari transaksi yang kelewat di mobile banking. Bukan mau berhemat, cuma penasaran kenapa saldo tinggal segitu padahal rasanya belum ngapa-ngapain.
Saya scroll ke atas, dan kelihatan pola yang bikin agak males:
Tanggal 3 kepotong, tanggal 7 kepotong, tanggal 12 kepotong lagi. Semuanya kecil. Semuanya otomatis. Semuanya sudah jalan entah dari kapan.
Saya coba jumlahin. Ternyata Rp340 ribuan sebulan cuma buat langganan.
Yang bikin nyesek bukan angkanya sih. Tapi karena saya beneran nggak sadar. Kalau ditanya “sebulan habis berapa buat langganan”, saya pasti jawab seratus dua ratus ribu. Meleset jauh.
Netflix Premium sendiri sudah Rp186.000. Kalau dikali dua belas jadi Rp2,2 juta setahun. Buat satu layanan doang. Padahal saya nontonnya paling seminggu dua kali, itu pun sambil ngantuk.
Kenapa bisa kelewat?
Saya sempat mikir, kenapa kok bisa nggak sadar selama itu. Kayaknya ada dua sebab.
1. Potongannya nggak pernah barengan
Kalau semua langganan kepotong di tanggal yang sama, pasti kelihatan. Ini kepotongnya nyicil, tiga hari sekali, jadi tiap potongan kelihatannya wajar sendiri-sendiri.
2. Nggak pernah dibandingin sama pengeluaran lain
Rp186.000 kalau dibandingin sama makan siang ya kelihatan mahal. Tapi otak saya bandinginnya sama “hiburan sebulan”, dan di kepala saya hiburan sebulan itu jatahnya besar. Padahal jatah itu nggak pernah saya tulis di mana-mana, cuma perasaan doang.
Nah, begitu saya kali dua belas, baru kerasa.
Rp2,2 juta itu setara:
- Tiket pulang kampung dua kali, atau
- Servis motor setahun plus ganti ban.
Baru deh kebayang.
Yang sudah saya coba (dan gagal)
Begitu tahu angkanya, saya langsung reaktif. Hasilnya? Gagal semua.
1. Stop langganan
Bertahan tiga minggu.
Terus ada serial yang rame dibahas di grup kantor. Tiga hari saya tahan, hari keempat daftar lagi. Jadi bukan hemat, cuma nunda sambil nambah kesel.
2. Turun ke paket lebih murah
Ini yang paling bikin nyesel.
Kualitasnya turun, cuma bisa satu layar, dan pas mau nonton di TV ruang tengah malah nggak bisa karena istri lagi pakai di HP. Berantem kecil gara-gara Rp70 ribu. Nggak worth it.
3. Hampir beli akun murah di marketplace
Ada yang jual Rp15.000 sebulan, ada yang Rp25.000.
Untung nggak jadi, karena teman saya sudah duluan nyoba dan akunnya mati sebelum tiga minggu. Duitnya nggak balik, mau komplain juga bingung komplain ke siapa. Yang jual sudah ganti nama toko.
Belakangan saya baru ngerti kenapa akun begituan murah:
Rata-rata dibeli pakai kartu yang bermasalah, jadi begitu ketahuan sama Netflix ya langsung dimatiin.
Kadang malah akunnya kena verifikasi rumah tangga duluan, jadi tiap pindah Wi-Fi disuruh masukin kode yang kodenya nggak akan pernah kamu terima karena emailnya bukan punyamu.
Yang akhirnya masuk akal: patungan Netflix Premium
Yang paling nggak saya lirik dari awal ternyata yang paling logis: dibagi rame-rame.
Logikanya gini:
Netflix Premium mahal karena isinya empat layar sekaligus plus 4K.
Kalau dipakai sendirian ya jelas boros, wong tiga layarnya nganggur tiap hari.
Tapi kalau berempat, per orang tinggal Rp46 ribuan.
Coba bandingin:
Rp46 ribu itu lebih murah dari paket paling bawah Netflix,
Tapi yang kamu dapet malah paket paling atas: kualitas penuh, bisa di TV, bisa 4K.
Ini bukan akal-akalan juga. Netflix emang jual paket Premium dengan empat layar karena mereka tahu satu akun sering dipakai lebih dari satu orang. Selama semua yang pakai tinggal serumah atau minimal jelas orangnya, ya nggak ada yang dilanggar.
Kenapa patungan sering bubar?
Saya sebenarnya sudah pernah nyoba, tahun 2023 kalau nggak salah, sama tiga teman kantor. Bubar dua bulan.
Bukan karena ada yang nggak bayar. Semuanya bayar kok, cuma telat-telat. Masalahnya saya yang jadi tukang nagih.
Tiap tanggal 25 saya harus japri satu-satu:
- Dua orang bales cepat.
- Satu orang selalu “besok ya bro” sampai tiga hari, kadang sampai saya kirim ulang screenshot tagihannya biar dia inget.
- Padahal duitnya cuma Rp45 ribu.
Yang bikin capek bukan nunggu duitnya, tapi jadi orang yang nagih terus. Rasanya nggak enak sama teman sendiri. Lama-lama saya males, terus saya bilang udahlah pakai sendiri aja, dan balik lagi bayar penuh.
Teman saya yang lain ceritanya beda tapi ujungnya sama. Grupnya bubar gara-gara satu orang ganti password tanpa bilang, tiga orang kekunci, terus ributnya kemana-mana. Padahal orangnya cuma iseng ganti karena takut akunnya dipakai orang luar.
Jadi kalau mau patungan sendiri, minimal sepakatin tiga hal dulu di depan:
- Siapa yang pegang akun dan boleh ganti password.
- Tanggal berapa semua bayar.
- Gimana kalau ada yang berhenti di tengah jalan.
Ditulis, jangan cuma diomongin pas semua lagi semangat.
Patungan lewat layanan pihak ketiga
Belakangan ternyata sudah ada yang bikin layanannya, jadi nggak perlu ngurus itu semua sendiri.
Modelnya kira-kira begini:
- Tiap orang bayar sendiri-sendiri ke sistemnya, bukan ke salah satu anggota. Jadi nggak ada yang jadi bendahara.
- Slotnya juga jelas punya siapa.
- Kalau ada yang berhenti, nanti diisi orang lain, bukan sisanya yang nombokin.
Teman saya dua orang pakai patungan Netflix Premium yang modelnya begini. Katanya yang paling enak justru bukan hematnya, tapi nggak perlu nagih siapa-siapa lagi.
Saya belum ikut sih, masih mikir. Bukan karena ragu sama hitungannya, lebih karena males pindah-pindah akun aja. Tapi setelah lihat angka Rp2,2 juta tadi, kayaknya cuma soal waktu.
Yang saya lakuin sekarang
Sekarang tiap awal bulan saya:
- Buka mutasi rekening.
- Saring transaksi berulang / langganan.
- Kali dua belas buat lihat dampak setahun.
Nggak sampai sepuluh menit.
Bulan ini saya nemu dua langganan yang beneran nggak pernah dipakai:
- Satu aplikasi edit foto yang saya daftar buat sekali pakai terus lupa.
- Satu lagi penyimpanan awan yang sebenernya kuotanya masih cukup di paket gratis.
Total Rp79.000 sebulan, jalan entah berapa lama.
Cuma dua itu doang sudah Rp948.000 setahun.
Nggak sampai lima menit buat matiinnya.
Agak nggak enak sih tiap lihat angkanya. Tapi mending nggak enak sekarang daripada nggak sadar setahun penuh.

