Kinerja Operasional Meningkat, Prospek TINS Makin Positif

Kinerja Operasional Meningkat, Prospek TINS Makin Positif

PT Timah Tbk (Persero) (TINS) mencatat pertumbuhan kinerja operasional yang signifikan hingga semester I 2026. Peningkatan produksi dan penjualan, ditambah penguatan harga jual, menopang prospek bisnis perseroan hingga akhir tahun.

Direktur Operasional TINS Ilhamsyah Mahendra mengatakan, konsumsi timah global hingga Juni 2026 mencapai sekitar 179.000 ton. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan produksi global yang berada di kisaran 173.000 ton, sehingga menciptakan defisit pasokan sekitar 3%.

Dengan kondisi tersebut, perseroan memperkirakan harga timah masih akan berada pada level yang kuat. “Dengan masih adanya defisit antara konsumsi dan produksi, kami memperkirakan harga timah akan tetap kuat di level US$47.000–55.000 per ton,” ujar Ilhamsyah dalam Public Expose Live 2026.

Produksi dan Penjualan Meningkat

Dari sisi operasional, produksi bijih timah TINS mencapai 12.232 ton hingga Juni 2026. Realisasi ini meningkat 75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Produksi logam timah juga tumbuh 58% menjadi 10.865 ton. Sementara itu, penjualan logam timah melonjak 85% menjadi 10.984 ton.

Kinerja tersebut semakin diperkuat oleh kenaikan harga jual rata-rata. Harga jual logam timah TINS tercatat sebesar US$49.794 per ton hingga semester I 2026, naik 52% secara tahunan.

Kenaikan Biaya Produksi

Di tengah peningkatan produksi, TINS juga menghadapi kenaikan biaya produksi. Cash cost perseroan meningkat 11% menjadi US$22.435 per ton.

Direktur Keuangan TINS Fina Eliani menyebutkan, kenaikan biaya terutama dipengaruhi oleh harga bahan bakar minyak dan royalti. Meski demikian, perseroan masih mampu menjaga efisiensi dalam kegiatan produksi bijih dan proses peleburan.

Kenaikan harga jual rata-rata timah dinilai masih mampu menopang margin perseroan, meskipun terdapat tekanan dari sisi biaya operasional.

Ekspor Masih Mendominasi

Pasar ekspor tetap menjadi penopang utama penjualan TINS. Hingga semester I 2026, penjualan ekspor memberikan kontribusi sebesar 97%, sedangkan pasar domestik menyumbang 3%.

Asia menjadi pasar terbesar dengan kontribusi 75% dari total penjualan. Setelah itu, Eropa menyumbang 19% dan Amerika sekitar 3%.

Dengan pasokan global yang masih defisit dan permintaan yang terus tumbuh, TINS memandang prospek pasar timah tetap positif hingga akhir 2026. Namun, perseroan tetap perlu mengantisipasi volatilitas harga komoditas, kenaikan biaya produksi, serta dinamika regulasi pertambangan.

 

Next Post Previous Post