Kurs Dolar-Rupiah, Selasa 22 September 2026, Dolar pada Rupiah Senilai Rp 17.890
| (Foto Kurs Dolar-Rupiah dari Bank BCA) |
Di pasar spot, rupiah dibuka melemah ke sekitar Rp17.887 per dolar AS, turun 40 poin atau 0,22% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.847 per dolar AS.
Data perdagangan valuta asing juga menunjukkan rupiah melemah sekitar 0,34% ke level Rp17.885 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.825 per dolar AS.
Pergerakan Rupiah
Tekanan terhadap rupiah berlangsung di tengah pergerakan mata uang Asia yang cenderung terbatas terhadap dolar AS. Pada perdagangan Selasa pagi, dolar AS tercatat menguat tipis, sementara rupiah menjadi salah satu mata uang regional yang mengalami pelemahan lebih besar.
Pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen domestik, termasuk kebijakan Bank Indonesia, perhatian terhadap kondisi fiskal, serta perkembangan ekonomi global yang berpengaruh terhadap pergerakan dolar AS. Sejumlah analis sebelumnya memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.840–Rp17.900 per dolar AS.
Perbedaan Jenis Kurs
Nilai Rp17.890 dapat menjadi acuan pada transaksi tertentu, tetapi kurs yang berlaku dapat berbeda bergantung pada bank, waktu transaksi, dan jenis kurs yang digunakan. Sebagai gambaran, kurs Bank Central Asia pada 21 September mencatat kurs jual bank notes USD sebesar Rp17.890, sedangkan kurs beli berada di Rp17.610.
Bank Indonesia mencatat kurs transaksi USD pada 21 September dengan kurs jual Rp17.833,72 dan kurs beli Rp17.656,28.
Dengan demikian, masyarakat dan pelaku usaha perlu memeriksa kurs yang berlaku secara langsung sebelum melakukan transaksi dolar, khususnya untuk pembayaran impor, pembelian barang dari luar negeri, perjalanan, maupun kebutuhan investasi.
Dampak bagi Pelaku Usaha
Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya bagi importir dan perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dolar AS. Sebaliknya, eksportir berpotensi memperoleh nilai rupiah yang lebih besar dari pendapatan dalam dolar, meskipun dampaknya tetap bergantung pada struktur biaya dan kontrak bisnis masing-masing.
Bagi masyarakat, kenaikan kurs dolar dapat memengaruhi harga produk impor, tiket perjalanan internasional, biaya pendidikan di luar negeri, serta berbagai layanan yang menggunakan mata uang dolar sebagai acuan.

