PGE Siapkan Energi Panas Bumi Pasok Listrik Data Center AI
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menyatakan kesiapannya menyediakan energi panas bumi sebagai sumber listrik baseload energi baru terbarukan (EBT) untuk mendukung perkembangan pusat data (data center) dan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.
Pernyataan Kesiapan PGE di IndoEBTKE ConEx 2026
Kesiapan tersebut disampaikan Direktur Utama PGE Ahmad Yani pada ajang The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026 di Jakarta, Kamis (3/9/2026), sebagaimana dilansir dari Investor Daily. Kebutuhan listrik untuk pusat data berbasis AI terus meningkat seiring transformasi digital nasional yang didukung 235,26 juta pengguna internet dan 185 fasilitas data center di Indonesia.
Pasokan listrik untuk fasilitas ini memerlukan karakter khusus yang beroperasi secara stabil dan terus-menerus selama 24 jam penuh. “Pusat data membutuhkan listrik yang andal dan hijau sekaligus. Panas bumi adalah energi domestik yang bersih dan mampu beroperasi sebagai baseload sepanjang waktu, sehingga sangat cocok menjadi tulang punggung green data center di Indonesia,” ujar Direktur Utama PGE Ahmad Yani.
Proyek Percontohan Green Data Center di Kamojang
PGE meluncurkan proyek percontohan kajian elektrifikasi green data center berbasis panas bumi di Area Kamojang, Jawa Barat. Langkah ini diambil untuk menguji model bisnis, memetakan permintaan calon pengguna, serta menyiapkan pasar.
Dalam paparannya, Ahmad Yani menjelaskan bahwa panas bumi memiliki keunggulan dibandingkan sejumlah sumber energi terbarukan lain karena mampu menyediakan pasokan listrik secara stabil. Berdasarkan paparannya, faktor kapasitas (capacity factor) panas bumi mencapai sekitar 90%, lebih tinggi dibandingkan tenaga air sekitar 48%, angin 36%, dan surya 18%.
Empat Langkah Kunci Pengembangan Data Center Berbasis EBT
“Guna mendorong optimalisasi pengembangan data center berbasis EBT, khususnya panas bumi, terdapat beberapa langkah kunci yang perlu dukungan penuh,” kata Ahmad Yani. Ia merinci empat langkah kunci tersebut:
Pertama, menyempurnakan regulasi tarif agar lebih kompetitif, transparan, dan predictable.
Kedua, memperluas pemanfaatan insentif fiskal dan green financing.
Ketiga, memperkuat sinkronisasi WKP, RUPTL, jaringan, PPA, dan target COD.
Keempat, diperlukan penyesuaian strategi dengan kebijakan pemerintah dalam blueprint pengembangan data center sekaligus panas bumi nasional.
Inisiatif ini terintegrasi dalam strategi Beyond Electricity milik PGE, yang juga mencakup pengembangan green hydrogen serta pemanfaatan uap panas bumi secara langsung.
Target Kapasitas dan Momentum 100 Tahun Panas Bumi Nasional
Perseroan menargetkan peningkatan kapasitas terpasang menjadi sekitar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034 dari total portofolio sumber daya 3 GW. Target tersebut sejalan dengan agenda pemerintah yang mengalokasikan 5,2 GW kapasitas panas bumi dalam RUPTL.
Pengembangan ini diharapkan mempercepat pencapaian target Indonesia menjadi produsen panas bumi terbesar di dunia. “Terlebih, tahun ini bertepatan dengan 100 tahun perjalanan panas bumi nasional. Ini momentum yang tidak datang dua kali, sehingga harus kita manfaatkan sebaik mungkin untuk mengakselerasi pengembangan kapasitas dan mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai produsen panas bumi terbesar dunia,” tambah Ahmad Yani.
Saat ini, kapasitas terpasang PGE mencapai 727 megawatt (MW), dengan pipeline pengembangan di sejumlah wilayah termasuk Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Dengan begitu, terdapat potensi sekitar 2,5 GW untuk dikembangkan dari total potensi pengembangan kapasitas hingga 3,2 GW.
Kolaborasi dengan UI dan IDPRO untuk Pilot Project
PGE tengah berkolaborasi dengan Universitas Indonesia (UI) dan asosiasi penyelenggara data center (IDPRO) untuk mengembangkan proyek percontohan ini menjadi peluang bisnis yang dapat direalisasikan ke depan. “Kami sedang melakukan, sedang berproses, berkolaborasi dengan Universitas Indonesia (UI), dengan asosiasi penyelenggara data center (IDPRO), untuk bagaimana membuat proyek ini menjadi suatu pilot project dan nantinya akan bisa menjadi peluang-peluang bisnis yang kita harapkan menjadi real business ke depan,” ujar Ahmad Yani.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi PGE untuk mengembangkan peluang bisnis baru di luar bisnis pembangkit konvensional, termasuk menghubungkan geothermal dengan green industry seperti green data center.

