PGEO Hadapi Ujian Hulu–Hilir Lewat Bisnis Hidrogen Hijau dan Green Data Center

PGEO Hadapi Ujian Hulu–Hilir Lewat Bisnis Hidrogen Hijau dan Green Data Center

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) tengah menghadapi tantangan ganda dari sisi hulu dan hilir. Untuk menjawabnya, perseroan mengembangkan bisnis hidrogen hijau dan green data center sebagai terobosan strategis dalam diversifikasi pendapatan dan penguatan keberlanjutan operasional.

Ujian Hulu: Tantangan Keberlanjutan Sumber Daya

Dari sisi hulu, PGEO menghadapi isu sustainability resource atau keberlanjutan sumber daya bahan baku panas bumi. Semakin besar energi yang diproduksi, semakin besar pula upaya yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan reservoir.

Sebagai respons, PGEO mengoptimalkan teknologi seperti reservoir assessment dan meningkatkan kompetensi SDM di bidang reservoir management. Langkah ini penting untuk memitigasi natural decline atau penurunan produksi alami yang umum terjadi pada lapangan panas bumi.

Ujian Hilir: Diversifikasi Pendapatan dan Beyond Electricity

Di sisi hilir, PGEO berupaya menciptakan sumber pendapatan baru di luar bisnis kelistrikan konvensional atau beyond electricity. Strategi ini sejalan dengan target perseroan menjadi perusahaan panas bumi terbesar di dunia pada 2034.

Dua pilar utama dalam strategi hilir PGEO adalah:

Green hydrogen: PGEO mengembangkan pilot project hidrogen hijau di Area Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Proyek ini menargetkan Commercial Operation Date (COD) pada November 2026 dengan kapasitas produksi sekitar 100 kilogram per hari.

Green data center: PGEO menjajaki ekosistem pusat data ramah lingkungan dengan menyediakan pasokan listrik berbasis energi panas bumi. Perseroan tidak akan beroperasi sebagai operator data center, melainkan sebagai penyedia energi bersih.

Pilot Project Green Hydrogen Ulubelu

Proyek percontohan hidrogen hijau di Ulubelu memanfaatkan listrik dari pembangkit panas bumi dengan teknologi anion exchange membrane electrolyzer yang memiliki efisiensi sekitar 80 persen.

Masa uji coba operasi direncanakan berlangsung selama tiga tahun sebagai proof of concept dan commercial readiness sebelum PGEO mengembangkan bisnis hidrogen hijau dalam skala lebih luas.

Direktur Utama PGEO Ahmad Yani menyatakan bahwa dalam dua hingga tiga tahun ke depan, perseroan akan mengembangkan proyek ini menjadi bisnis yang nyata seiring meningkatnya potensi pasar hidrogen global.

Green Data Center: Pasokan Listrik Hijau untuk Industri Digital

Selain hidrogen hijau, PGEO juga membidik peluang baru melalui penyediaan listrik hijau bagi green data center. Langkah ini merupakan bagian dari hilirisasi geothermal untuk membentuk ekosistem energi bersih yang terintegrasi.

PGEO melihat peluang besar seiring meningkatnya kebutuhan industri digital terhadap pasokan energi yang stabil, terjangkau, dan rendah karbon.

Strategi Pendanaan dan Ekspansi

PGEO memastikan pendanaan proyek geothermal tetap aman hingga 2029 dengan dukungan dari JICA, World Bank, dan investor global. Dana tersebut akan digunakan untuk ekspansi kapasitas hingga 3 GW.

Perseroan juga menyiapkan capital expenditure (capex) sebesar US$ 209 juta untuk mendukung agenda ekspansi dan target kinerja 2026, termasuk pengembangan green hydrogen dan green data center.

 

Next Post Previous Post