PLN EPI Incar Potensi 60,6 Juta Ton Biomassa Indonesia
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menargetkan pemanfaatan sekitar 60,6 juta ton biomassa yang saat ini belum termanfaatkan di Indonesia sebagai basis pengembangan bisnis bioenergi baru.
Langkah ini diambil untuk mendukung transisi energi nasional sekaligus membuka peluang ekonomi rendah karbon yang melibatkan sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, industri, hingga sampah perkotaan.
Potensi Biomassa yang Belum Termanfaatkan
PLN EPI memetakan bahwa dari total potensi biomassa nasional, sekitar 60,6 juta ton di antaranya masih belum dioptimalkan. Sumber biomassa ini berasal dari:
Limbah pertanian (sekam padi, tongkol jagung, bagas tebu)
Sisa hasil perkebunan (cangkang sawit, serbuk kayu, pelepah)
Residu kehutanan (serbuk gergaji, potongan kayu)
Limbah industri dan sampah organik perkotaan
Potensi ini dinilai sebagai “harta karun” energi yang dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari bahan bakar pembangkit hingga komoditas ekspor.
Produk Bioenergi yang Dikembangkan
PLN EPI tidak hanya memanfaatkan biomassa sebagai bahan bakar langsung, tetapi juga mengembangkannya melalui berbagai jalur pengolahan untuk menghasilkan produk bioenergi yang lebih beragam:
Biomassa untuk co-firing PLTU: Digunakan sebagai campuran batubara pada 52 unit PLTU dengan kapasitas total 18,9 GW.
Biochar: Dihasilkan melalui proses torrefaction dan pyrolysis, dapat digunakan untuk perbaikan tanah atau bahan bakar padat.
Syngas: Hasil gasifikasi biomassa untuk mendukung program dedieselisasi pembangkit listrik berbasis minyak bumi.
Biohidrogen: Disiapkan untuk pasokan industri pupuk dan potensi ekspor sebagai energi hijau.
Compressed Biogas (CBG): Dapat menggantikan sebagian penggunaan gas alam pada pembangkit listrik.
Biofuel dan Bioethanol: Membuka ruang kolaborasi dengan perusahaan lain untuk sektor transportasi dan industri.
VP Strategi & Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI, Anita Puspita Sari, menyatakan bahwa pengembangan bioenergi ini merupakan jalur strategis untuk mengubah potensi feedstock domestik menjadi solusi energi berkelanjutan.
Strategi Implementasi Co-firing PLTU
Di sektor kelistrikan, program co-firing biomassa telah menjadi salah satu implementasi utama bioenergi PLN. Program ini diarahkan pada 52 PLTU dengan total kapasitas 18,9 GW, memanfaatkan infrastruktur pembangkit yang sudah tersedia.
Beberapa target dan strategi yang dijalankan PLN EPI meliputi:
Target pasokan biomassa: 3,4 juta ton pada 2026, meningkat menjadi 4,07 juta ton pada 2027.
Porsi biomassa dalam co-firing: Ditargetkan mencapai sekitar 5% dari campuran batubara secara nasional.
Model Spoke–Hub: Menghubungkan fasilitas pengumpulan bahan baku dengan pusat pengolahan dan distribusi untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok.
Marketplace Biomassa: Sistem perdagangan bahan baku berbasis teknologi digital untuk memperkuat ekosistem pasokan.
Pembangunan Hub Biomassa: Hingga 2028, PLN EPI menargetkan pembangunan 15 Main Hub/Hub Biomassa di berbagai wilayah Indonesia.
Ekosistem Bioenergi untuk Industri dan Ekspor
PLN EPI tidak hanya mengarahkan ekosistem bioenergi untuk memenuhi kebutuhan pembangkit PLN, tetapi juga berpotensi melayani:
Industri domestik: Sebagai sumber energi alternatif untuk sektor manufaktur dan agroindustri.
Independent Power Producer (IPP): Menyediakan pasokan bioenergi untuk pembangkit swasta.
Pasar ekspor: Khususnya untuk produk seperti biohidrogen dan biofuel yang memiliki permintaan global.
Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya PLN EPI membangun portofolio bisnis rendah karbon di tengah transformasi sektor energi menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Pemanfaatan biomassa tidak hanya berkontribusi pada reduksi emisi karbon, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat melalui pengembangan ekosistem ekonomi sirkuler. Program ini melibatkan berbagai pelaku usaha di daerah, termasuk UMKM dan koperasi, dalam rantai pasok biomassa.
Selain itu, pengembangan ekosistem bioenergi berbasis biomassa berpotensi membuka lapangan kerja hijau (green jobs) dan meningkatkan nilai tambah dari limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.
Tantangan dan Peluang
Meskipun potensinya besar, keberhasilan program pemanfaatan biomassa bergantung pada beberapa faktor kunci:
Ketersediaan rantai pasok: Membutuhkan infrastruktur pengumpulan dan pengolahan yang efisien.
Keekonomian: Harga biomassa harus kompetitif dibandingkan dengan bahan bakar fosil.
Teknologi: Diperlukan investasi dalam fasilitas pengolahan seperti hub biomassa dan teknologi konversi.
Regulasi: Dukungan kebijakan untuk mendorong penggunaan bioenergi di berbagai sektor.
Dengan strategi yang tepat, 60,6 juta ton biomassa yang belum termanfaatkan dapat menjadi katalisator penting dalam transisi energi Indonesia, sekaligus menciptakan peluang bisnis baru yang berkelanjutan.

