Prospek Saham Sawit Ditopang Program B50 dan Lonjakan Harga CPO
Prospek saham sektor perkebunan hingga akhir 2026 diperkirakan tetap positif. Penerapan program biodiesel 50 persen atau B50, ancaman El Nino, serta kenaikan harga crude palm oil (CPO) berpotensi memperketat pasokan dan meningkatkan penyerapan minyak sawit di dalam negeri.
Sejumlah analis menilai sentimen tersebut dapat menopang kinerja emiten perkebunan. Namun, investor tetap perlu mencermati volatilitas harga CPO, risiko produksi, serta ketidakpastian regulasi terkait badan pengawas ekspor Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
B50 dan El Nino Pengaruhi Harga CPO
Analis CGS International, Rut Yesika Simak, menjelaskan sentimen B50 dan El Nino masih berimbang dengan ketidakpastian regulasi ekspor. Menurutnya, El Nino dalam jangka pendek lebih berpengaruh terhadap harga CPO dibandingkan volume produksi.
“Dalam jangka pendek, kami melihat El Nino lebih berpengaruh terhadap harga CPO dibandingkan volume produksi, sementara dampaknya terhadap produksi kemungkinan baru akan terlihat pada 2027,” ungkap Rut dalam risetnya, 31 Juli.
Rut memproyeksikan produksi CPO sektor perkebunan tumbuh 12 persen pada semester II 2026. Pertumbuhan tersebut diperkirakan mendorong laba bersih sektor perkebunan sekitar 7 persen secara tahunan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, juga menilai prospek emiten CPO hingga akhir 2026 masih positif. Meski demikian, investor diimbau mewaspadai pergerakan harga komoditas yang fluktuatif dan potensi gangguan produksi.
Penerapan B50 sejak Juli 2026 diproyeksikan meningkatkan konsumsi CPO domestik untuk kebutuhan biodiesel menjadi sekitar 16,3 juta hingga 17 juta ton per tahun. Peningkatan penyerapan domestik tersebut turut mendukung harga CPO yang menembus kisaran Rp15,5 juta per ton pada September 2026.
Permintaan dari India juga berpotensi menjadi katalis tambahan bagi harga CPO. Di sisi lain, dampak El Nino terhadap produktivitas memiliki jeda waktu. Potensi penurunan produksi sebesar 4 juta hingga 5 juta ton diperkirakan baru terasa signifikan pada 2027.
Kinerja Emiten Perkebunan
| (Foto Saham TAPG dari Google Finansial) |
DSNG
Analis Phillip Capital, Marvin Lievincent, mencatat PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) membukukan pendapatan Rp6,3 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut meningkat 3,4 persen secara tahunan.
Pertumbuhan pendapatan DSNG didorong oleh kenaikan volume penjualan sebesar 2,2 persen dan peningkatan average selling price (ASP) CPO sebesar 2,5 persen. Laba bersih perusahaan melonjak 7,8 persen secara tahunan menjadi Rp986 miliar, terutama berkat efisiensi beban keuangan.
“Kami memproyeksikan pendapatan akan tumbuh dengan CAGR sebesar 11,9 persen selama periode FY24-29F, didukung oleh peningkatan volume produksi dan permintaan CPO yang terus tumbuh, meskipun harga CPO diperkirakan akan mengalami normalisasi,” tulis Marvin dalam risetnya.
Dari sisi operasional, gabungan produksi CPO DSNG dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) pada semester I 2026 mencapai 798 ribu ton. Kinerja tersebut didukung oleh perbaikan oil extraction rate (OER).
LSIP
PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) mencatat pendapatan Rp2,69 triliun pada semester I 2026. Pendapatan tersebut tumbuh 15,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Yasmin Soulisa, menyebut laba bersih LSIP melesat 24,7 persen secara tahunan menjadi Rp891 miliar. Kenaikan laba didukung keuntungan selisih kurs dan pendapatan non-operasional.
Produksi CPO LSIP meningkat 4,6 persen secara tahunan menjadi 136 ribu ton. OER juga naik ke level 22,4 persen, sedangkan harga jual CPO meningkat 4,1 persen secara tahunan.
Yasmin memproyeksikan total produksi tandan buah segar (TBS) LSIP dapat mencapai 1,15 juta ton pada akhir 2026.
TAPG
Untuk PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), pendapatan semester I 2026 tercatat sebesar Rp5,86 triliun. Sementara itu, laba bersih perusahaan melonjak 20,6 persen secara tahunan menjadi Rp2,12 triliun.
Analis KB Valbury Sekuritas, Adolf Setiadi, menjelaskan kinerja TAPG ditopang oleh kenaikan volume pemrosesan TBS sebesar 1,15 juta ton dan ASP CPO sebesar Rp15.278 per kilogram.
TAPG juga memiliki profil tanaman yang relatif produktif. Sekitar 81,5 persen area perkebunan perusahaan berada dalam kategori usia matang prima, sehingga dapat mendukung stabilitas produksi.
AALI
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan core profit sebesar Rp1,1 triliun pada semester I 2026. Menurut Nafan Aji Gusta, perusahaan juga memiliki posisi kas bersih yang solid.
Kondisi keuangan tersebut menjadi salah satu faktor pendukung bagi AALI di tengah prospek positif sektor perkebunan. Namun, rekomendasi terhadap saham ini masih lebih konservatif dibandingkan sejumlah emiten lainnya.
Rekomendasi Saham Sawit
Dengan mempertimbangkan dampak mandatori B50, harga CPO, dan profil operasional masing-masing emiten, analis memberikan rekomendasi sebagai berikut:
|
Saham |
Rekomendasi |
Target harga |
|
DSNG |
Buy |
Rp1.760 per saham |
|
LSIP |
Buy |
Rp2.170 per saham |
|
TAPG |
Buy |
Rp2.500 per saham |
|
AALI |
Hold |
Rp6.775 per saham |
Marvin Lievincent memberikan rekomendasi buy untuk DSNG dengan target harga Rp1.760 per saham. Yasmin Soulisa merekomendasikan buy untuk LSIP dengan target harga Rp2.170 per saham.
Adolf Setiadi memberikan rekomendasi buy untuk TAPG dengan target harga Rp2.500 per saham. Sementara itu, Rut Yesika Simak mempertahankan rekomendasi hold untuk AALI dengan target harga Rp6.775 per saham.
Prospek hingga Akhir 2026
Program B50 berpotensi menjadi katalis utama bagi emiten perkebunan karena meningkatkan konsumsi CPO domestik. Kenaikan harga CPO dan potensi permintaan ekspor dari India juga dapat mendukung pendapatan perusahaan.
Meski demikian, investor perlu memperhatikan risiko normalisasi harga CPO, volatilitas pasar, dampak El Nino terhadap produksi, serta perubahan kebijakan ekspor. Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, DSNG, LSIP, dan TAPG menjadi saham yang memperoleh rekomendasi beli dari analis, sedangkan AALI berada dalam posisi tahan.

