Rupiah Kembali Dekati Rp 18.000 per Dolar AS, Ini Penyebab Utamanya
Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Jumat (25/9/2026), mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang menekan mata uang Tanah Air.
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 0,17% ke posisi Rp 17.975 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat melemah hingga 0,24% ke level Rp 17.988.
Gejolak Ekonomi Global Jadi Pemicu Utama
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebut, tekanan terhadap rupiah terutama datang dari gejolak ekonomi global yang masih berlanjut. Ketidakpastian di pasar keuangan dunia membuat investor cenderung lebih waspada, sehingga aliran modal ke negara berkembang seperti Indonesia melambat.
“Tekanan rupiah ini terutama karena gejolak ekonomi global yang masih berlanjut, sehingga ketidakpastian pasar keuangan global masih cukup tinggi,” ujar Destry di Kantor Pusat BI, Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Dalam situasi seperti ini, investor biasanya beralih ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven), seperti dolar AS. Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat, sementara rupiah mendapat tekanan jual.
Perlu Dorong Aliran Modal Asing Masuk
Selain faktor eksternal, BI juga menyoroti pentingnya meningkatkan aliran modal asing ke dalam negeri. Ketika arus masuk modal asing melemah, pasokan valuta asing di pasar domestik ikut berkurang, sehingga rupiah sulit menguat.
Merespons hal ini, BI memperbesar insentif transaksi lindung nilai (hedging) dan memperluas cakupannya. Insentif ini tidak hanya berlaku untuk investasi portofolio, tetapi juga untuk pinjaman luar negeri perbankan dan investasi langsung asing (Foreign Direct Investment/FDI).
“Kami juga memperbesar insentif transaksi lindung nilai dan memperluas cakupan tidak hanya untuk investasi portofolio, tapi juga pinjaman luar negeri perbankan dan investasi langsung asing,” jelas Destry.
Pasokan Dolar di Dalam Negeri Perlu Ditingkatkan
Pelemahan rupiah juga terkait dengan ketersediaan pasokan valuta asing di dalam negeri. Jika pasokan dolar terbatas sementara permintaannya tinggi, nilai tukar rupiah otomatis tertekan.
Untuk menambah pasokan valas, BI meningkatkan insentif swap beli lindung nilai dengan pengurangan premi yang lebih besar, yakni 15–25% tergantung tenor. Langkah ini diharapkan bisa menarik lebih banyak dolar masuk ke pasar domestik.
Mata Uang Asia Bergerak Beragam
Di tingkat regional, pergerakan mata uang utama di Asia juga menunjukkan variasi. Won Korea Selatan menguat 0,36%, ringgit Malaysia naik 0,27%, sementara yuan China turun 0,03% dan rupe India melemah 0,23%. Dalam kondisi ini, rupiah ikut tertekan di tengah sentimen regional yang tidak seragam.
BI Perkuat Stabilisasi Nilai Tukar
Sebagai respons, BI menegaskan akan terus memperkuat stabilisasi nilai tukar melalui berbagai instrumen, termasuk intervensi di pasar valas (spot, NDF, dan DNDF). Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas dan mencegah volatilitas berlebihan.
Dengan serangkaian kebijakan tersebut, BI berharap tekanan terhadap rupiah dapat mereda seiring membaiknya sentimen pasar dan meningkatnya aliran modal asing ke Indonesia.

