Bitcoin Kembali Melemah di Tengah Lonjakan Yield Obligasi AS

Bitcoin Kembali Melemah di Tengah Lonjakan Yield Obligasi AS

Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026. Penurunan tersebut terjadi ketika imbal hasil atau yield obligasi Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi dalam 24 tahun.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 07.05 WIB, harga Bitcoin turun 2,69% menjadi US$83.212 per koin. Dengan asumsi kurs Rp17.897 per dolar AS, harga tersebut setara dengan sekitar Rp1,48 miliar per BTC.

Tekanan juga terjadi secara luas di pasar kripto. Kapitalisasi pasar kripto global merosot 2,79% dalam 24 jam terakhir menjadi US$2,83 triliun. Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar turun 3,02%.

Ethereum (ETH) menjadi salah satu aset yang mengalami penurunan paling dalam, yakni sebesar 4,62% ke level US$2.571. Sementara itu, Binance Coin (BNB) melemah 0,79% menjadi US$771.

Yield Treasury Melonjak

Bitcoin Kembali Melemah di Tengah Lonjakan Yield Obligasi AS
(Foto Harga Bitcoin dari TradingView)
Mengutip CoinTelegraph, lonjakan yield obligasi AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga Bitcoin. Yield Treasury AS tenor 10 tahun mencapai 5,36%, sedangkan yield tenor 30 tahun menyentuh 5,73%. Kedua level tersebut merupakan yang tertinggi dalam 24 tahun.

Kenaikan yield terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi. Salah satu pemicunya adalah lonjakan harga energi yang berlangsung bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kenaikan yield biasanya membuat aset berpendapatan tetap menjadi lebih menarik karena investor memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi dari instrumen yang dianggap relatif aman. Sebaliknya, aset berisiko seperti Bitcoin menghadapi tekanan jual karena tidak memberikan pendapatan atau bunga tetap.

Harga Minyak Ikut Menekan

Harga energi turut memperburuk sentimen pasar. Harga minyak mentah Brent sempat mencapai US$102 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$91 per barel. Kenaikan tersebut dipicu ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta kekhawatiran terhadap lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz.

Muhammad Qubbaj, co-head of North America Interest Rate Product Sales and Trading Goldman Sachs FICC and Equities, memperkirakan yield obligasi AS masih berada di bawah tekanan.

Menurutnya, kenaikan harga energi dan lemahnya permintaan dari investor institusional dapat menjaga tekanan terhadap suku bunga jangka panjang. Kondisi ini berpotensi membatasi ruang pemulihan aset-aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Dolar AS Jadi Faktor Tambahan

Selain kenaikan yield, penguatan dolar AS juga menjadi beban bagi Bitcoin. Dolar yang lebih kuat cenderung mengurangi minat investor terhadap aset berisiko dan membuat aset yang diperdagangkan dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Kombinasi antara yield Treasury yang tinggi, kenaikan harga minyak, kekhawatiran inflasi, dan penguatan dolar membuat Bitcoin gagal melanjutkan upaya untuk menembus level US$87.000.

Pergerakan pasar selanjutnya akan sangat bergantung pada arah yield obligasi AS, perkembangan harga energi, serta situasi geopolitik di Timur Tengah. Selama yield dan dolar AS tetap menguat, Bitcoin berpotensi menghadapi tekanan lanjutan.


Next Post Previous Post