Update Harga Bitcoin dan Solana di $82.818 pada Kamis, 8 Oktober 2026
![]() |
| (Foto Harga Bitcoin dari Coinmarketcap) |
Bitcoin Turun ke Kisaran US$83.000
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Kamis pagi, harga Bitcoin berada di kisaran US$83.200–US$83.330 per koin, turun sekitar 2,45%–2,69% dalam 24 jam terakhir. Dengan asumsi kurs sekitar Rp17.900 per dolar AS, nilai Bitcoin setara dengan kurang lebih Rp1,49 miliar per BTC.
Bitcoin sebelumnya sempat menyentuh level US$82.898 pada Rabu malam, menunjukkan bahwa tekanan jual masih cukup kuat di pasar. Dalam periode tujuh hari, Bitcoin tercatat turun sekitar 0,26% berdasarkan data yang dikutip dari CoinMarketCap.
Solana Melemah Lebih Dalam
![]() |
| (Foto Harga Solana dari Coinmarketcap) |
Yield Obligasi Jadi Sentimen Utama
Salah satu faktor utama yang menekan harga kripto adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Yield yang lebih tinggi dapat membuat instrumen pendapatan tetap menjadi lebih menarik dibandingkan aset berisiko seperti Bitcoin dan Solana.
Penguatan dolar AS juga menambah tekanan. Kondisi tersebut biasanya membuat aset berdenominasi dolar, termasuk kripto, menghadapi tantangan karena investor cenderung mengurangi eksposur pada instrumen berisiko.
Selain faktor makroekonomi, kenaikan harga minyak dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik turut memengaruhi sentimen pasar. Pasar kripto pun bergerak mengikuti tren pelemahan aset berisiko global.
Level yang Perlu Diperhatikan
Bitcoin kini berada di area penting sekitar US$83.000–US$84.000. Jika tekanan jual berlanjut, level US$82.000 dapat menjadi area yang kembali diuji. Sebaliknya, pemulihan menuju US$84.000–US$87.000 akan menjadi sinyal awal bahwa minat beli mulai kembali.
Untuk Solana, area sekitar US$115–US$116 menjadi perhatian pasar. Penurunan lebih lanjut dapat meningkatkan risiko pelemahan, sedangkan penguatan kembali di atas US$120 dapat membantu memperbaiki sentimen jangka pendek.
Pergerakan harga tersebut bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Investor sebaiknya memperhatikan volatilitas, kondisi makroekonomi, serta manajemen risiko sebelum mengambil keputusan transaksi.



