Harga Pangan Terbaru Akhir Oktober 2026: Beras, Cabai, Ayam, hingga Telur Masuk Daftar Pantauan
Menjelang akhir Oktober 2026, harga sejumlah pangan pokok masih menjadi perhatian pemerintah. Cabai rawit dan cabai merah mencatat tekanan harga paling tinggi, sementara beras, daging ayam, dan telur ayam tetap masuk daftar komoditas yang dipantau ketat menjelang Natal dan Tahun Baru.
Harga pangan nasional
Berdasarkan data pemantauan pekan ketiga Oktober 2026, harga beras medium nasional berada di sekitar Rp14.680 per kg dan beras premium Rp16.527 per kg, masing-masing masih naik tipis dibanding September 2026.
Sementara itu, Panel Harga Bapanas mencatat harga telur ayam ras nasional di kisaran Rp29.400–Rp29.650 per kg pada 22 Oktober 2026, dengan tren melandai dari hari sebelumnya.
|
Komoditas |
Harga acuan/terpantau |
Kondisi akhir Oktober
2026 |
|
Beras medium |
Rp14.680/kg |
Naik 0,18% dibanding September 2026. |
|
Beras premium |
Rp16.527/kg |
Naik 0,15% dibanding September 2026. |
|
Cabai rawit merah |
Sekitar Rp104.000–Rp150.000/kg |
Sangat tinggi dan menjadi tekanan inflasi utama. |
|
Daging ayam ras |
Rp41.350/kg |
Masih di atas Harga Acuan Penjualan Rp40.000/kg. |
|
Daging sapi |
Rp149.050/kg |
Naik 8,6% secara tahunan. |
|
Telur ayam ras |
Sekitar Rp29.400–Rp29.650/kg |
Melandai, namun tetap dipantau. |
|
Minyak goreng |
Naik 9,5% YoY |
Penurunan harga CPO belum sepenuhnya turun ke harga konsumen. |
Cabai masih paling “pedas”
Cabai menjadi komoditas dengan lonjakan paling tajam. Pada pemantauan minggu kedua Oktober, harga cabai merah naik 35,1% dan cabai rawit 15,2% secara bulanan; secara tahunan, cabai rawit melonjak hingga 99,5% dan cabai merah 39,7%.
Kenaikan ini terutama dipicu pasokan yang menipis akibat gangguan cuaca, produksi yang belum pulih, serta rantai distribusi yang panjang terutama ke luar Jawa. Hampir 90 persen kabupaten/kota dilaporkan masih mengalami kenaikan harga cabai.
Beras dan telur relatif terkendali
Berbeda dengan cabai, harga beras masih bergerak dalam kisaran yang relatif moderat. Harga beras medium dan premium hanya naik di bawah 0,2 persen dibanding September, meski pemerintah tetap mewaspadai potensi kenaikan menjelang akhir tahun.
Telur ayam ras justru menunjukkan tren melandai pada pertengahan hingga akhir Oktober, dengan harga nasional sekitar Rp29.400 per kg pada 22 Oktober. Namun, telur tetap masuk kelompok pangan bergejolak yang berkontribusi terhadap inflasi pangan.
Daging ayam dan sapi di atas batas nyaman
Harga daging ayam ras tercatat Rp41.350 per kg, masih di atas Harga Acuan Penjualan sebesar Rp40.000 per kg, dengan kenaikan 8,7% secara tahunan.
Daging sapi juga bertahan tinggi di Rp149.050 per kg, naik 8,6% dibanding tahun lalu. Ketergantungan pada pasokan dan kebutuhan pakan menjadi salah satu faktor yang membuat kedua komoditas ini tetap berada dalam daftar pantauan.
Faktor pendorong harga
El NiƱo sangat kuat masih bertahan dan menekan pasokan pangan, terutama bersama Indian Ocean Dipole positif yang mengurangi uap air ke Indonesia bagian barat.
Gangguan distribusi menjadi masalah utama, khususnya pengiriman cabai ke wilayah yang harus melewati jalur laut.
Permintaan menjelang Nataru diperkirakan meningkat, sehingga Bapanas memperkuat pengawasan atas cabai dan beras.
Inflasi pangan bergejolak telah mencapai 5,03% secara tahunan pada September 2026, didorong cabai, daging ayam, beras, dan telur ayam.
Langkah pemerintah
Pemerintah mempercepat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Per 8 Oktober 2026, penyaluran beras SPHP periode 1 Oktober–20 November telah mencapai 33.500 ton atau 45,2% dari target 74.000 ton, sementara distribusi jagung SPHP mencapai 190.400 ton atau 78,9% dari target.
Untuk cabai, Bapanas menjalankan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) guna memindahkan pasokan dari daerah surplus ke wilayah defisit, termasuk Sulawesi Utara, Minahasa, dan Halmahera Utara. Bulog juga menguasai 4,56 juta ton beras per 21 Oktober 2026 sebagai penyangga pasokan menjelang Nataru.
Apa artinya bagi konsumen
Bagi rumah tangga, komoditas yang paling perlu diantisipasi adalah cabai, terutama cabai rawit dan cabai merah. Beras dan telur relatif lebih stabil, tetapi tetap perlu dipantau karena permintaan akhir tahun berpotensi menaikkan harga di sejumlah daerah.
Konsumen dapat memanfaatkan beras SPHP atau beras medium sebagai alternatif yang lebih terjangkau, sementara pembelian cabai dalam jumlah kecil dan sesuai kebutuhan dapat membantu mengurangi dampak lonjakan harga.


