Kinerja BBRI Pulih hingga Agustus 2026: Laba Naik 6,6%, Kredit Tumbuh 13,7%
Pemulihan kinerja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terus menunjukkan tren positif hingga Agustus 2026, ditopang oleh ekspansi penyaluran kredit yang solid dan perbaikan kualitas aset di tengah tekanan margin bunga bersih.
Kinerja Laba dan Pendapatan
Laba bersih BBRI secara bank-only mencapai Rp 34,8 triliun pada delapan bulan pertama 2026, mengalami kenaikan sebesar 6,6 persen secara tahunan (year on year/YoY). Pertumbuhan laba ini didorong oleh pendapatan bunga bersih yang naik 3,4 persen YoY, serta pre-provision operating profit (PPOP) yang meningkat 6,7 persen YoY.
Salah satu indikator penting adalah penurunan biaya kredit atau cost of credit (CoC) yang melandai ke level 3,29 persen pada periode tersebut, lebih rendah dibandingkan posisi 3,34 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan kualitas aset dan penurunan biaya pencadangan ini menjadi penanda bahwa pemulihan laba perseroan tetap berada di jalur yang tepat.
Ekspansi Penyaluran Kredit
Penyaluran kredit BBRI mencatatkan outstanding sebesar Rp 1.447 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 13,7 persen secara tahunan. Meskipun secara bulanan terkoreksi tipis 0,3 persen dan laju ekspansi melambat dibandingkan kuartal II 2026 yang tumbuh 16,2 persen YoY, dinamika tersebut dinilai tetap sehat dan melampaui estimasi awal manajemen.
Menanggapi kinerja ini, manajemen kemudian menaikkan panduan pertumbuhan kredit tahun 2026 menjadi 8-10 persen, dari sebelumnya 7-9 persen. Penopang utama ekspansi kredit diperkirakan masih berasal dari segmen konsumer serta wholesale, sementara proses pemulihan pada segmen mikro masih berjalan secara bertahap.
Kondisi Pendanaan dan Likuiditas
Dari sisi penghimpunan dana, simpanan nasabah BBRI tercatat mencapai Rp 1.656 triliun pada Agustus 2026, melaju 12,6 persen YoY dan melebihi pertumbuhan penyaluran kredit. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tersebut mendorong Loan to Deposit Ratio (LDR) membaik ke level 87,4 persen, dari posisi 89,7 persen pada Juli 2026.
Namun, struktur pendanaan perseroan bergeser ke sumber dana yang berbiaya lebih mahal. Porsi dana murah (CASA) tergerus menjadi 64,8 persen pada Agustus 2026 dari posisi 66,2 persen pada Juli 2026, sejalan dengan lonjakan deposito berjangka yang tumbuh 15 persen YoY. Perubahan bauran pendanaan tersebut berpotensi menahan pemulihan margin dalam jangka pendek.
Rekomendasi Analis dan Target Harga
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim, mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit BBRI yang lebih tinggi berpotensi membantu mengimbangi sebagian tekanan margin melalui peningkatan volume aset produktif. Dengan mempertimbangkan pemulihan kualitas aset, pertumbuhan kredit yang masih sehat, serta stabilisasi biaya kredit, analis mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBRI.
Target harga ditetapkan pada Rp 3.900 per saham berdasarkan valuasi 1,8 kali price to book value (P/BV) tahun 2026.
Posisi Harga dan Risiko
| (Foto Saham BBRI dari Google Finansial) |
Meskipun pertumbuhan laba BBRI tercatat paling rendah di antara bank BUMN lainnya, kinerja intermediasi dan efisiensi beban bunga menunjukkan bahwa bank ini tetap menjaga momentum positif di tengah tantangan industri.

