Mayora Perkuat Ekspansi saat Laba Semester I Naik 46,5%
PT Mayora Indah Tbk (MYOR) membukukan kinerja positif pada semester I 2026. Laba bersih perseroan melonjak 46,5% secara tahunan menjadi sekitar Rp1,70 triliun, dibandingkan Rp1,16 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan mempertimbangkan penguatan margin, efisiensi biaya, serta kontribusi ekspor, sejumlah analis masih memberikan pandangan positif terhadap saham MYOR.
Pertumbuhan laba tersebut terjadi meski penjualan perseroan hanya meningkat tipis 0,7% secara tahunan menjadi Rp17,92 triliun. Kinerja ini menunjukkan adanya peningkatan efisiensi dan profitabilitas di tengah tekanan terhadap harga saham serta kekhawatiran kenaikan biaya bahan baku akibat cuaca ekstrem dan potensi fenomena El NiƱo.
Margin Laba Menguat
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan laba adalah penurunan beban pokok penjualan sebesar 5% secara tahunan menjadi Rp13,30 triliun. Penurunan tersebut sejalan dengan koreksi harga sejumlah bahan baku utama, termasuk kopi, kakao, dan gula.
Efisiensi tersebut mendorong margin laba kotor Mayora meningkat signifikan menjadi sekitar 25,7%, dari 21% pada semester I 2025. Kenaikan margin sekitar 450 basis poin ini membantu mengimbangi pertumbuhan penjualan yang relatif terbatas.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia Willy Goutama menilai kinerja operasional Mayora tetap solid berkat ekspansi pasar dan kemampuan perseroan menjaga margin.
“Peningkatan margin kotor pada semester I 2026 menjadi 25,7% atau naik 450 basis poin secara tahunan turut mendongkrak kinerja laba, meskipun penjualan semester I 2026 cenderung lemah di level Rp17,9 triliun,” ujar Willy dalam risetnya.
Ekspor Jadi Penopang
Pelemahan nilai tukar rupiah juga memberikan dampak positif terhadap pendapatan ekspor Mayora. Penjualan dari pasar luar negeri menyumbang sekitar 40% dari total penjualan perseroan.
Selain meningkatkan daya saing produk ekspor, pelemahan rupiah turut memperbesar keuntungan selisih kurs. Keuntungan selisih kurs Mayora tercatat melonjak 198,8% secara tahunan menjadi Rp309,78 miliar.
Analis Phintraco Sekuritas Vinna N. Rachmawati menyebut kinerja ekspor menjadi salah satu penopang utama fundamental Mayora ketika rupiah mengalami depresiasi. Pendapatan ekspor dalam valuta asing dinilai dapat membantu mengimbangi kenaikan biaya bahan baku yang sebagian masih dipengaruhi dolar AS.
Saham Masih Tertekan
Meskipun kinerja keuangan membaik, saham MYOR masih menghadapi tekanan di pasar. Investor mencermati risiko kenaikan harga komoditas lunak global yang dapat meningkatkan biaya produksi perseroan.
Implementasi kebijakan biodiesel B50 juga menjadi perhatian karena berpotensi mendorong kenaikan harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Kenaikan harga CPO dapat meningkatkan biaya bahan baku untuk sejumlah produk perseroan.
Pada akhir September 2026, saham MYOR tercatat turun sekitar 34% sejak awal tahun. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kinerja fundamental perseroan yang justru menunjukkan perbaikan laba dan margin.
Perluas Distribusi dan Kemitraan
Untuk memperkuat penetrasi pasar, Mayora terus menjalankan sejumlah strategi pengembangan bisnis. Perseroan menjalin kemitraan strategis dengan RANS Entertainment untuk memperkuat nilai merek dan meningkatkan kedekatan dengan konsumen.
Mayora juga berupaya memperluas jaringan distribusi melalui program Koperasi Desa Merah Putih. Inisiatif tersebut diharapkan dapat membuka akses penjualan yang lebih luas, terutama di wilayah perdesaan dan pasar domestik.
Rekomendasi Beli
| (Foto Saham MYOR dari Google Finansial) |
Willy Goutama memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp2.500 per saham. Sementara itu, Vinna N. Rachmawati menetapkan target harga Rp2.600 per saham.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati risiko volatilitas harga bahan baku, perkembangan nilai tukar rupiah, implementasi kebijakan B50, serta potensi pelemahan daya beli domestik.

