Menguak Faktor di Balik Kompresi Valuasi Premium Saham BBCA

Menguak Faktor di Balik Kompresi Valuasi Premium Saham BBCA
(Foto Saham BBCA dari Google Finansial)

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami kompresi valuasi premium sepanjang 2025, dengan penurunan harga signifikan hingga 25% year-to-date pada Oktober, meski rasio PE tetap di level 15-16 kali dan PBV sekitar 3,4 kali. Fenomena ini mencerminkan tekanan sentimen pasar yang lebih kuat daripada fundamental perusahaan yang masih solid, di mana laba bersih 7M25 tumbuh 11% YoY menjadi Rp34,7 triliun.​

Baca Juga: 10 Alasan Membeli Saham BCA Sebagai Investor Pemula

Kenaikan Beban Operasional dan Provisi

Penurunan laba bersih bulanan, seperti pada Juli 2025 yang minus 2% YoY, dipicu kenaikan beban pajak 24% dan provisi 233% YoY, meski PPOP naik 7%. Beban impairment juga melonjak 109% YoY menjadi Rp3,12 triliun pada Oktober, menekan margin keuntungan di tengah pertumbuhan kredit 11% YoY. Faktor ini membuat investor khawatir terhadap kualitas aset, walaupun NPL dan LAR tetap terkendali.​

Tekanan Sentimen Pasar dan Makroekonomi

Sentimen jangka pendek mendominasi, termasuk pelemahan kredit konsumsi, kekhawatiran NPL, dan minimnya katalis positif di sektor perbankan. Saham BBCA terkoreksi 22% sepanjang 2025 hingga September, mencapai level Rp7.525, di tengah tekanan pasar modal secara keseluruhan. Selain itu, potensi penurunan NIM 20-30 bps akibat pemangkasan BI rate menambah beban, meski loan growth ditargetkan 8-10% tahun depan.​​

Valuasi Relatif dan Prospek Jangka Panjang

Meski premium, valuasi BBCA menarik dengan ROE 21,4%, CASA 83,7%, dan rekomendasi buy dari analis dengan target Rp11.200 (potensi naik 38%). Program buyback hingga Rp9.200 menjadi penopang, sementara pertumbuhan non-interest income 18% YoY mendukung ketahanan fundamental. Analis memandang koreksi ini sebagai peluang akumulasi bertahap bagi investor jangka panjang.​

 

Next Post Previous Post