Alasan Djarum Akuisisi Sariwangi: Dari Rokok ke Teh Celup Rp1,5 T
Djarum mengakuisisi bisnis teh Sariwangi dari Unilever senilai Rp1,5 triliun pada Januari 2026 sebagai langkah strategis ekspansi ke sektor FMCG, memanfaatkan merek lokal ikonik untuk menguasai rantai pasok teh nasional dan diversifikasi dari bisnis inti rokok.
Latar Belakang Transaksi Besar
Akuisisi ini ditandatangani pada 6 Januari 2026 dan direncanakan rampung Maret 2026 melalui anak usaha Djarum Group yakni Savoria Group.
Unilever memutuskan melepas Sariwangi karena kontribusinya relatif kecil terhadap pendapatan (2,7%) dan laba bersih (3,1%), sehingga memungkinkan fokus pada bisnis inti seperti personal care dan makanan kemasan dengan pertumbuhan lebih tinggi. Strategi ini sejalan dengan tren global Unilever yang melakukan "portfolio pruning" untuk realisasikan nilai investasi bagi pemegang saham.
Alasan Utama Djarum
Ekspansi Portofolio Non-Tembakau: Djarum, yang dikenal dominan di industri rokok kretek, ingin perkuat lini FMCG dengan merek teh celup Sariwangi yang sudah punya loyalitas kuat di kalangan rumah tangga Indonesia selama puluhan tahun. Akuisisi ini tambah sinergi distribusi ritel Djarum yang mencakup jutaan outlet tradisional dan modern di seluruh negeri.
Kontrol Rantai Nilai Lengkap: Grup Djarum rencanakan optimalkan rantai pasok teh dari perkebunan lokal hingga kemasan siap jual, tingkatkan efisiensi produksi dan responsivitas terhadap selera pasar domestik. Ini sejalan dengan visi bangun ekosistem bisnis Indonesia mandiri, kurangi ketergantungan impor bahan baku teh.
Potensi Pertumbuhan Pasar: Pasar teh celup Indonesia tumbuh 5-7% per tahun, didorong urbanisasi dan preferensi minuman praktis. Sariwangi dengan pangsa 20-25% jadi aset strategis untuk saingi kompetitor seperti Sosro dan SariWangi kompetitor lain, plus peluang ekspor ke ASEAN.
Strategi Unilever di Balik Pelepasan
Unilever Indonesia (UNVR) fokuskan sumber daya pada segmen high-growth seperti skincare, sabun, dan es krim, di mana margin lebih tinggi. Bisnis teh dianggap non-core setelah evaluasi portofolio 2025, terutama dengan fluktuasi harga komoditas teh global. Transaksi ini tak beri dampak material pada neraca keuangan UNVR, tapi beri kas segar untuk ekspansi digital dan inovasi produk.
Dampak Positif bagi Industri Lokal
Pemberdayaan Petani Teh: Djarum potensial tingkatkan penyerapan teh lokal dari perkebunan di Jawa Barat, Sumatra Utara, dan Jawa Tengah, ciptakan ribuan lapangan kerja di hulu hingga hilir. Ini dukung program pemerintah soal hilirisasi komoditas pertanian.
Sinergi Distribusi: Jaringan Djarum yang kuat di warung dan minimarket akan percepat penetrasi Sariwangi ke daerah terpencil, tingkatkan volume penjualan 15-20% dalam 2 tahun pertama.
Tren Konglomerasi Diversifikasi: Mirip akuisisi strategis lain seperti Sinar Mas ke makanan atau Astra ke ritel, langkah Djarum tunjukkan konglomerasi Indonesia pindah dari komoditas ekstraktif ke consumer goods stabil.
Proyeksi Masa Depan
Dalam 3-5 tahun, Sariwangi di bawah Djarum kemungkinan luncurkan varian premium seperti teh hijau organik atau teh kemasan ramah lingkungan, saingi tren kesehatan pasca-pandemi. Valuasi Rp1,5 T (sekitar 7-8x EBITDA) tunjukkan keyakinan investor pada potensi merek lokal ini.

