BI Intervensi Pasar Offshore untuk Cegah Pelemahan Rupiah

BI Intervensi Pasar Offshore untuk Cegah Pelemahan Rupiah

Bank Indonesia (BI) baru-baru ini melakukan intervensi di pasar offshore untuk mencegah pelemahan lebih lanjut terhadap nilai tukar rupiah, yang sempat mendekati level Rp17.000 per dolar AS. Langkah ini diambil di tengah tekanan dari arus keluar modal asing dan persepsi pasar yang memicu spekulasi.

Kondisi Nilai Tukar Terkini

Nilai tukar rupiah berhasil menguat menjadi Rp16.784 per dolar AS pada 26 Januari 2026, naik 0,21% dari posisi sebelumnya di Rp16.820. Penguatan ini didorong oleh data ekonomi AS yang melemah serta upaya stabilisasi dari BI. Sebelumnya, rupiah sempat terdepresiasi tajam hingga mendekati Rp16.956, menciptakan kekhawatiran pasar.

Detail Intervensi BI

BI secara aktif melakukan intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) offshore dan domestic NDF (DNDF), serta perdagangan spot untuk meredam spekulasi. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa bank sentral siap melakukan intervensi berskala besar jika diperlukan, dengan mengoptimalkan seluruh instrumen yang tersedia. Strategi ini bertujuan memutus rantai pelemahan yang berlebihan dan menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas global.

Penyebab Utama Pelemahan Rupiah

Beberapa faktor domestik dan eksternal berkontribusi terhadap tekanan ini:

Arus keluar modal asing: Investor asing menarik dana dari pasar Indonesia, menjadi biang kerok utama pelemahan rupiah.

Isu internal BI: Rumor pergantian deputi BI sempat memicu kekhawatiran, meski Menteri Keuangan menegaskan hal itu bukan penyebab utama.

Faktor fiskal dan global: Persepsi fiskal pemerintah serta kekhawatiran akan krisis seperti masa lalu mempercepat panik pasar.

Data ekonomi AS: Pelemahan indikator ekonomi Amerika Serikat justru membantu penguatan rupiah baru-baru ini.

Strategi Jangka Pendek dan Panjang

BI meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar, termasuk memantau pasar secara ketat. Pakar mendorong strategi non-moneter seperti peningkatan ekspor dan pengendalian impor untuk mendukung upaya moneter. Secara keseluruhan, intervensi ini berhasil mencegah skenario terburuk, meski BI tetap waspada terhadap risiko lanjutan.

 

Next Post Previous Post