Dari Swasembada 1995 ke Impor Masif: Ini Penyebab Krisis Bawang Putih RI
Indonesia pernah mencapai swasembada bawang putih pada era 1980-an hingga 1994-1995, dengan produksi puncak mencapai 152.000-279.000 ton per tahun dari sentra seperti Temanggung, Lombok Timur, dan Enrekang.
Namun, kebijakan liberalisasi perdagangan sejak pertengahan 1990-an, termasuk masuknya Indonesia ke WTO dan APEC, membuka banjir impor murah dari China yang membuat petani lokal kalah saing karena harga bawang impor jauh lebih rendah (Rp2.250/kg vs Rp6.000/kg lokal).
Krisis moneter 1998 memperparah situasi dengan deregulasi impor yang tak terkendali pasca-Letter of Intent IMF, menyebabkan produksi domestik anjlok dan impor melonjak hingga 90-95% kebutuhan nasional.
Faktor Utama Penyebab
Harga Impor Murah: Bawang putih China unggul dalam harga dan kualitas, menggeser preferensi konsumen serta menurunkan minat petani.
Penurunan Luas Panen: Dari 22.000 ha pada 1995 menjadi minim, akibat petani beralih tanaman lain yang lebih menguntungkan
Kebijakan Gagal: Kewajiban importir tanam 5% gagal karena kurang pengalaman, ditambah disparitas biaya produksi Rp30.000/kg lokal vs impor.
Dampak Saat Ini
Kebutuhan bawang putih RI sekitar 580.000 ton/tahun, tapi produksi lokal hanya 10-23.000 ton, membuat impor dominan dari China dan India. Upaya swasembada kembali direncanakan hingga 2029 oleh Kementan, meski tantangan iklim dan mafia pangan masih ada.

