Harga minyak dunia kembali terpuruk di awal 2026, dengan minyak Brent mentok di kisaran US$68 per barel pada Jumat lalu. Penurunan ini dipicu oleh kelebihan pasokan dari OPEC+ dan perlambatan permintaan global akibat resesi ringan di AS dan Eropa.
Di tengah gejolak ini, minyak sawit Indonesia justru menunjukkan ketangguhan, dengan harga CPO (Crude Palm Oil) bertahan di atas RM 4.200 per ton di Bursa Malaysia. Peluang emas ini membuka pintu bagi Indonesia untuk merebut pangsa pasar lebih besar di sektor energi nabati.
Faktor Penyebab Anjloknya Harga Minyak Dunia
Harga minyak Brent dan WTI telah turun 15% sejak Desember 2025, menurut data Bloomberg. OPEC+ memutuskan untuk meningkatkan produksi hingga 2 juta barel per hari, sementara stok minyak AS mencapai rekor 450 juta barel. Permintaan dari China juga lesu karena transisi ke energi terbarukan, dengan impor minyak mereka turun 8% year-on-year.
| Komoditas | Harga 3 Jan 2026 | Perubahan Mingguan | Perubahan Bulanan |
|---|
| Brent | US$68,20/barel | -4,2% | -12,5% |
| WTI | US$65,10/barel | -4,5% | -13,8% |
| CPO (Sawit) | RM 4.250/ton | +2,1% | +5,3% |
Sumber: Bursa Malaysia Derivatives, ICE Futures (data per 3 Januari 2026).
Di Indonesia, dampaknya langsung terasa di harga BBM. Pertamina menurunkan harga Pertalite menjadi Rp 10.000 per liter mulai minggu ini, memberikan ruang bagi biodiesel berbasis sawit untuk bersaing lebih ketat.
Ketangguhan Minyak Sawit di Tengah Krisis Minyak Fosil
Berbeda dengan minyak fosil, sawit Indonesia didorong oleh mandat biodiesel B40 yang diterapkan pemerintah sejak 2025. Produksi biodiesel B40 mencapai 12,5 juta kiloliter tahun lalu, menyerap 9 juta ton CPO domestik. Ekspor sawit ke India dan Eropa juga melonjak 7%, mencapai 28 juta ton pada 2025, berkat sertifikasi ISPO yang semakin diakui.
Peluang Rebut Pangsa Pasar Global
Indonesia, sebagai produsen sawit terbesar dunia (56% pangsa global), kini punya modal kuat untuk ekspansi. Pemerintah menargetkan ekspor sawit capai 32 juta ton di 2026, dengan nilai US$25 miliar. Strategi utama:
Diversifikasi Pasar: Fokus ke Asia Tenggara dan Afrika, di mana permintaan biofuel naik 20% akibat krisis energi.
Teknologi Hijau: Investasi Rp 5 triliun untuk pabrik green biodiesel di Sumatra, mengurangi emisi hingga 60%.
Diplomasi Dagang: MoU baru dengan India untuk suplai 5 juta ton CPO, menggantikan minyak sawit Ukraina yang terganggu perang.
Analis Mandiri Sekuritas memproyeksikan harga CPO stabil di RM 4.300-4.500 per ton hingga Q2 2026, berpotensi dorong IHSG sektor agribisnis naik 10-15%. Saham seperti AALI dan LSIP sudah naik 8% minggu ini.
Tantangan dan Risiko ke Depan
Meski prospektif, sawit Indonesia hadapi hambatan seperti tuduhan deforestasi dari LSM Eropa dan fluktuasi cuaca La Nina yang bisa tekan produksi 5%. Pemerintah diminta perkuat sertifikasi RSPO untuk jaga akses pasar premium.
Secara keseluruhan, anjloknya minyak dunia menjadi "turning point" bagi sawit Indonesia. Dengan produksi 48 juta ton per tahun, RI siap dominasi pasar biofuel global, ciptakan lapangan kerja bagi 4,5 juta petani, dan stabilkan neraca perdagangan.